Aku tiba di depan rumah Xavier, tanganku dingin karena gugup untuk menceritakan semuanya pada Xavier. Aku dipersilahkan masuk oleh nenek Xavier, tapi aku tidak melihat Xavier sedikit pun. “nek? apakah Xavier ada dirumah? jika tidak aku akan pulang saja” nene pun segera menjawab pertanyaanku. “dia memang tidak ada, tapi dia akan pulang sebentar lagi, tunggulah”. Setelah beberpa menit aku menunggu akhirnya dia datang. “hai Audrey? apakah kau sudah lama menunggu? maafkan aku” dengan nada yang lelah dia mabjawab pertanyaanku. “Xavier, aku ingin mengatakan sesuatu yang pentik kepadamu” dengan nada rendah aku memulai pembicaraan. dia tidak menjawab pertanyaanku. “sebelum kau bertanya, aku memiliki sesuatu untukmu” dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. “Audrey, semenjak aku bertemu denganmu, aku merasakan hal yang sangat berbeda, aku mencintaimu Audrey, apakah kau mau menikah denganku?” aku tidak percaya Xavier melakukannya disaat yang tidak tepat, aku langsung berlari keluar rumah menuju taman yang berada di depan rumah Xavier sambil menagis, aku tidak peduli jika diluar sana hujan. Xavier mengejarku dan menarik tanganku hingga aku merasakan pelukan Xavier didalam tubuhku, hujan begitu deras baju kami basah kuyup. “mengapa kau lari? mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” Xavier memegang tangaku. Aku kembali tidak menjawab dan air mataku tidak bisa berhenti. “mengapa kau menangis? jawab aku Audrey!”. Aku memberanikan diri utuk menjawab semua pertanyaan Xavier. “maaf aku tidak bisa Xavier, tapi aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu, tapi aku sungguh tidak bisa” aku pun terjatuh dihadapannya. “mengapa tidak bisa? apa alasannya?” dia membangunkan ku. “aku akan menikah Xavier ! menikah !, beberapa hari lagi acara pernikahan akan dimulai, maafkan aku Xavier” aku hanya bisa menangis dan memeluk Xavier dengan kuat. Xavier melepaskan pelukannya. “ternyata kau mempermainkan aku? sungguh keterlaluan Audrey !, aku tidak percaya kau seperti ini ! aku benci padamu ! dan aku mohon jangan pernah kau bertemu lagi denganku !” Xavier meninggalkan ku dis ebuah taman yang sepi dan hanya terdngar bunyi hujan yang mengisi kesepianku
Sudah hari aku tidak bertemu dengan Xavier. Besok adalah hari pernikahan yang tidak aku inginkan. Gaun putih yang begitu indah aku pakai untuk acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh ibu. Aku dan Louis menaiki mobil pengantin menuju sebuah gereja. Saat diperjalanan mobil pengantinku menabrak pembatas jalan. Aku koma dan hilang ingatan , sementara Louis hanya mengalami benturan yang sangat keras sehingga tangan Louis mengalami luka lebam.
5.06.2013
Two Hearts - Part 10
“apa yang sudah kau persiapkan untuk pernikahanmu dengan Louis?” pagi itu di apartemenku bibi menanyakan pertanyaan yang membuatku kaget. “apa maksud bibi? menikah? bi? sampai kapanpun aku tidak akan menikahi Louis ! ingat itu bi!” dengan nada yang kesal aku menentang omongan bibi. “ingat Audrey, kau telah berjanji pada ibumu waktu itu ! jangan pernah kau menjadi seseorang yang tidak bisa menepati janji” itulah kata-kata terakhir bibi sebelum meninggalkan apartemenku. Xavier adalah alasan terkuat mengapa aku tidak mau menikahi Louis. Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangannya, tapi ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku, “apakah dia memiliki rasa yang sama denganku? ataudia sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama denganku?” terbesit pikiran seperti itu dalam otakku. Pikiranku penuh dengan nama Xavier, tuhan apakah memang dia lelaki yang diturunkan untukku
Ada seseorang yang mengetuk apartemenku, ternyata Ibuku dan George. unutuk apa mereka datang kemari? sungguh aneh, aku berkata dalam hati. “Audrey pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku sudah membelikanmu gaun yang sangat cantik” dengan wajah yang sangat gembira ibu mengeluarkan gaun yang begitu indah dari salah satu tas yang dibawanya. “apa kau menyukainya? ibu harap kau sangat menyukainya”. ya tuhan apa yang harus aku katakan jika aku tidak ingin menikah dengan Louis dan memakai gaun yang sudah ia berikan?, apa yang harus aku katakan?. “karena pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku harap kau jangan pernah bertemu lagi dengan laki-laki pembunuh itu”. George melarangku untuk bertemu dengan Xavier. “laki-laki pembunuh? siapa itu George?” ibu menanyakan kepada kakaku tentang sosok lelaki itu. Aku langsung menahan kaku untuk bicara “bukan siapa-siapa bu, dia hanya seorang laki-laki dari rumah tahanan, aku hanya mengenal namanya saja, aku juga tahu dia dari bibi” saat George akan melanjutkan omongannya tiba-tiba ibu mengajak George untuk meninggalkan apartemenku dan menuju rumah Louis.
Sungguh aku tidak bisa untuk memberitahu Xavier tentang kejadian yang aku alami sekarang. Aku memang adalah seorang wanita yang pembangkang saat kepergian ayah, tapi entah mengapa saat aku bertemu dengan Xavier kepribadianku berubah menjadi seorang wanita yang ramah. Aku akan pergi untuk mengunjungi rumah Xavier dan menjelaskan semua yang terjadi, dan apapun yang terjadi aku harus siap.
Ada seseorang yang mengetuk apartemenku, ternyata Ibuku dan George. unutuk apa mereka datang kemari? sungguh aneh, aku berkata dalam hati. “Audrey pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku sudah membelikanmu gaun yang sangat cantik” dengan wajah yang sangat gembira ibu mengeluarkan gaun yang begitu indah dari salah satu tas yang dibawanya. “apa kau menyukainya? ibu harap kau sangat menyukainya”. ya tuhan apa yang harus aku katakan jika aku tidak ingin menikah dengan Louis dan memakai gaun yang sudah ia berikan?, apa yang harus aku katakan?. “karena pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku harap kau jangan pernah bertemu lagi dengan laki-laki pembunuh itu”. George melarangku untuk bertemu dengan Xavier. “laki-laki pembunuh? siapa itu George?” ibu menanyakan kepada kakaku tentang sosok lelaki itu. Aku langsung menahan kaku untuk bicara “bukan siapa-siapa bu, dia hanya seorang laki-laki dari rumah tahanan, aku hanya mengenal namanya saja, aku juga tahu dia dari bibi” saat George akan melanjutkan omongannya tiba-tiba ibu mengajak George untuk meninggalkan apartemenku dan menuju rumah Louis.
Sungguh aku tidak bisa untuk memberitahu Xavier tentang kejadian yang aku alami sekarang. Aku memang adalah seorang wanita yang pembangkang saat kepergian ayah, tapi entah mengapa saat aku bertemu dengan Xavier kepribadianku berubah menjadi seorang wanita yang ramah. Aku akan pergi untuk mengunjungi rumah Xavier dan menjelaskan semua yang terjadi, dan apapun yang terjadi aku harus siap.
Two Hearts - Part 9
Hujanpun turun di apartemenku, aku urungkan niatku untuk pergi ke rumah bibi. Aku tahu mengapa kemarin George ada di rumah bibi, dia mengantarkan tas bibi karena kemarin dia tinggalkan dikursi saat menjenguk ibu. Lamunanku makin jauh tentang Xavier, aku tidak mengerti mengapa aku selalu memikirkannya, apa yang merasuki diriku ini? sungguh tidak mengerti, telfonku berbunyi nomornya tidak aku kenal “apakah ini Audrey?” seorang laki-laki berbicara di telfon. “iya ini aku Audrey, kau siapa?” kecurigaanku muncul. “syukurlah…, aku Xavier, kenapa kau tidak pergi ke rumah bibi? bukannya kau akan kesini?” dia menanyakan kepadaku “oh ternyata kau, aku pikir kau Louis, hampir saja…, aku tidak pergi karena di daerahku hujan, maaf aku tidak bisa pergi” kecurigaanku berbubah menjadi kebahagiaan. “Louis? siapa dia? oh tunanganmu itu?” nada bicaranya berubah menjadi angkuh. Aku tidak bisa berkata apa-apa mengapa aku sebut nama itu, sungguh kesalahan yang fatal. “ee….emm..bu..bukan, dia hanya temanku” aku mendadak gagap. “jika tunanganmu juga tidak apa-apa, apa kau nanti malam ada acara? aku ingin mengajakmu pergi kesuatu tempat” dia menawariku tawaran yang selama ini aku tunggu, berjalan bersamanya. “aku mau!!!” aku begitu bersemangat. “baiklah, berikan alamat apartemenmu kepadaku”. Aku memberikan alamat apartemenku kepadanya.
Harapanku yang selama ini aku tunggu pun akhirnya bisa terwujud, sebelum pernikahan itu dimulai aku ingin melewati hidupku dan hari-hariku bersamanya. Xavier pun telah menunggu di depan pintu apartemenku. Didalam perjalanan aku melihat wajah Xavier begitu bahagia, terlihat dari senyumannya. Didalam mobil aku bertanya sesuatu kepadanya. “darimana kau dapat mobil mewah ini? dan telfon, iya telfon, mengapa kau bisa manelfonku, padahal kau tidak punya telfon?” aku menanyakan hal memang begitu aneh kepadanya. “dulu aku mempunyai seorang ibu tiri dialah yang merawatku dan adikku, ketika aku ada di panti asuhan diamengadopsi aku dan adikku. dan dialah yang memberikan ini kepadaku” dia menceritakan semuanya “lalu? mengapa kau jadi pembunuh? kau sudah memiliki kebahagiaan bersamanya kan? kenapa kau menghancurkan semuanya?” aku bertanya penasaran. “dia adalah serorang janda, suaminya meninggal terkena kanker hati, dia tidak memiliki anak, karena dia sangat kesepian dia mengadopsi kami berdua, tetapi saat adikku dan aku merasakan hangatnya seorang dekapan ibu, seorang penjahat pada malam itu membunuh ibu tiriku, belum sempat pembunuh itu mengambil barang-barang yang ada di rumahku polisi datang. dan aku berfikir, mengapa setiap aku mendapat kebahagiaan selalu tidak pernah ada yang abadi,jadi aku berfikir untuk jadi pembunuh, ya jadi pembunuh untuk membunuh orang yang telah merenggut nyawa ibuku.” dia mengeluarkan air mata saat sedang menceritakan semuanya. “jadi ini adalah sebuah warisan?” aku menanyakannya sekali lagi. “iya memang benar ini semua warisan dari ibuku”.
Akhirnya kita sampai di sebuah rumah yang begitu mewah dan begitu indah sekali. aku duduk diruang tamu dan seorang nenek-nenek datang menghampiriku. “kau pasti Audrey” nenek itu menanyakan hal yang aneh. “iya aku Audrey, kau siapa?” “aku Jane, aku adalah nenek Xavier” dia mejabat tanganku untuk berkenalan. Xavier mengajakku kesebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya, ini terlihat seperti pemakaman, ya benar pemkaman, untuk apa dia membawaku kemari. Di sebuah batu nisan itu tertulis nama seseorang bernama Darwin. ternayata dia membawaku ketempat peristirahatan adiknya. “ini pasti adikmu” Xavier terkejut mendengar aku mengatakan hal itu ” iya benar, darima kau tahu?” Xavier menanyakan hal itu “aku membaca artikel tentangmu di sebuah internet” “oh begitu, adikku sangat senang sekali dengan lagumu pada saat dia masih kecil, makannya aku membawamu kemari” pandangan penuh harap Xavier terlihat dari wajahnya, yang menginginkan adiknya hidup kembali.
Aku menanyakan hal yang memang harus aku ketahui “Xavier, mengapa saat kau dipenjara, dan dihukum mati, kenapa bisa kau bebas begitu saja? dan mengapa saat kau dipenjara tidak ada satu orang pun yang menjengukmu? kau bilang kau tidak punya keluarga? padahal kau punya kan?, kenapa Xavier? ” aku sangat ingin tahu lebih jauh kehidupannya. “kau sudah bertemu nenekku? lebih tepatnya nenek tiriku? dia yang membebaskanku meskipun aku tidak ingin dibebaskan, dia meminta pihak kepolisian karena tidak ingin melihat cucu palsunya dihukum mati, tanpa sepengtahuanku dia membayar polisi untuk membebaskanku, aku tidak ingin memberitahu keluargaku karena aku tidak ingin ada orang jahat yang akan merenggut nyawa keluargaku satu-satunya yaitu nenekku, aku bersikap dingin karena aku tidak ingin melihat orang-orang bisa mempermainkanku seenaknya. nah, kau sudah tahu kan?” dia mengusap kepalaku seperti anak kecil kemudian tersenyum.
Harapanku yang selama ini aku tunggu pun akhirnya bisa terwujud, sebelum pernikahan itu dimulai aku ingin melewati hidupku dan hari-hariku bersamanya. Xavier pun telah menunggu di depan pintu apartemenku. Didalam perjalanan aku melihat wajah Xavier begitu bahagia, terlihat dari senyumannya. Didalam mobil aku bertanya sesuatu kepadanya. “darimana kau dapat mobil mewah ini? dan telfon, iya telfon, mengapa kau bisa manelfonku, padahal kau tidak punya telfon?” aku menanyakan hal memang begitu aneh kepadanya. “dulu aku mempunyai seorang ibu tiri dialah yang merawatku dan adikku, ketika aku ada di panti asuhan diamengadopsi aku dan adikku. dan dialah yang memberikan ini kepadaku” dia menceritakan semuanya “lalu? mengapa kau jadi pembunuh? kau sudah memiliki kebahagiaan bersamanya kan? kenapa kau menghancurkan semuanya?” aku bertanya penasaran. “dia adalah serorang janda, suaminya meninggal terkena kanker hati, dia tidak memiliki anak, karena dia sangat kesepian dia mengadopsi kami berdua, tetapi saat adikku dan aku merasakan hangatnya seorang dekapan ibu, seorang penjahat pada malam itu membunuh ibu tiriku, belum sempat pembunuh itu mengambil barang-barang yang ada di rumahku polisi datang. dan aku berfikir, mengapa setiap aku mendapat kebahagiaan selalu tidak pernah ada yang abadi,jadi aku berfikir untuk jadi pembunuh, ya jadi pembunuh untuk membunuh orang yang telah merenggut nyawa ibuku.” dia mengeluarkan air mata saat sedang menceritakan semuanya. “jadi ini adalah sebuah warisan?” aku menanyakannya sekali lagi. “iya memang benar ini semua warisan dari ibuku”.
Akhirnya kita sampai di sebuah rumah yang begitu mewah dan begitu indah sekali. aku duduk diruang tamu dan seorang nenek-nenek datang menghampiriku. “kau pasti Audrey” nenek itu menanyakan hal yang aneh. “iya aku Audrey, kau siapa?” “aku Jane, aku adalah nenek Xavier” dia mejabat tanganku untuk berkenalan. Xavier mengajakku kesebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya, ini terlihat seperti pemakaman, ya benar pemkaman, untuk apa dia membawaku kemari. Di sebuah batu nisan itu tertulis nama seseorang bernama Darwin. ternayata dia membawaku ketempat peristirahatan adiknya. “ini pasti adikmu” Xavier terkejut mendengar aku mengatakan hal itu ” iya benar, darima kau tahu?” Xavier menanyakan hal itu “aku membaca artikel tentangmu di sebuah internet” “oh begitu, adikku sangat senang sekali dengan lagumu pada saat dia masih kecil, makannya aku membawamu kemari” pandangan penuh harap Xavier terlihat dari wajahnya, yang menginginkan adiknya hidup kembali.
Aku menanyakan hal yang memang harus aku ketahui “Xavier, mengapa saat kau dipenjara, dan dihukum mati, kenapa bisa kau bebas begitu saja? dan mengapa saat kau dipenjara tidak ada satu orang pun yang menjengukmu? kau bilang kau tidak punya keluarga? padahal kau punya kan?, kenapa Xavier? ” aku sangat ingin tahu lebih jauh kehidupannya. “kau sudah bertemu nenekku? lebih tepatnya nenek tiriku? dia yang membebaskanku meskipun aku tidak ingin dibebaskan, dia meminta pihak kepolisian karena tidak ingin melihat cucu palsunya dihukum mati, tanpa sepengtahuanku dia membayar polisi untuk membebaskanku, aku tidak ingin memberitahu keluargaku karena aku tidak ingin ada orang jahat yang akan merenggut nyawa keluargaku satu-satunya yaitu nenekku, aku bersikap dingin karena aku tidak ingin melihat orang-orang bisa mempermainkanku seenaknya. nah, kau sudah tahu kan?” dia mengusap kepalaku seperti anak kecil kemudian tersenyum.
Two Hearts - Part 8
Aku tidak tahu apa yang membuat aku ingin kembali ke rumah tahanan tersebut padahal aku sama sekali tidak ada pekerjaan lagi bersama bibi. Aku meminta kepada petugas untuk mempertemukan aku dengan Xavier, petugas pun membawaku ke ruangan suci. “ada apa kau menjengukku?” Xavier memulai percakapan. Aku menundukan kepalaku mengarah ke lantai ruangan tersebut sambil mataku berkaca-kaca akan menangis dan tidak menjawab pertanyaannya. “hey aku bertanya padamu, jika tidak menjawab, aku akan kembali ke dalam sel” dia menanyakan kembali dengan muka yang kesal. Karena kesal mengunggu jawabanku akhirnya dia beranjak dari kursi dan kembali ke petugas, tetapi Aku mengadahkan kepalaku sambil mengusap air mata yang menetes di pipiku dan berteriak kepadanya “tunggu, aku hanya ingin mengetahui bagaima kabarmu”. Xavier kembali duduk saat aku menjawab pertanyaannya. “aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? sepertinya kau sedang tidak baik, apakah percobaan bunuh diri yang kau lakukan gagal lagi?” dia mencondongkan wajahnya hingga tepat berada di depan wajahku yang sembab karena habis menangis. pertanyaan itu membuat aku tertawa “haha, bisa saja kau ini, bagaima kau tahu jika aku selalu bunuh diri dan gagal” “Bibimu selalu menceritakanmu kepadaku tentang keponakannya yang bodoh” wajah yang begitu bahagia terpancar darinya “haha Bibi memang memalukan saja, Xavier apakah kau mau menjadi temanku?” aku sangat tidak mengerti mengapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Xavier pun sangat bingung untuk menjawab pertanyaanku “apa? teman? selama ini aku tidak punya teman, jika kau mau berteman denganku, baiklah”. Aku sangat senang dengan jawaban Xavier. Kami mengobrol sampai tidak mengenal waktu, jika waktu besukku telah habis. Aku kembali ke apartemenku di daerah Norwich dan dia kembali ke sel tahanannya.
Selama beberapa hari ini aku dan Xavier menghabiskan waktu bersama di ruangan suci tempat kami bercanda dan bercakap-cakap. Dengan kejadian itulah aku merasakan ini yang dinamakan cinta. Xavier akan bebas besok hari, karena Xavier berkelakuan baik selama beberapa bulan ini. Aku berkata pada Bibi Monika tentang bebasnya Xavier, Bibi sangat senang mendengar berita itu.
Pagi ini aku menjemput Xavier dan membawanya ke rumah bibi. Tidak kusangka ternyata dirumah bibi ada George, aku lemas seketika “siapa laki-laki ini? jawab aku Audrey !, kau bersama seorang pembunuh bajingan ini? pantas saja aku curiga dan khawatir tentangmu, dan benar saja selama ini kau bermain dengan orang tidak sebanding denganmu !” kakaku menamparku dengan keras, tiba tiba Xavier yang melihat aku diperlakukan seenaknya oleh kakaku akan menonjok kakaku tetapi itu tidak berhasil karena bibi melerai mereka. George pergi begitu saja. Bibi membangunkan aku yang jatuh dihalaman rumahnya karena kaget melihat perlakuan kakaku, bibi mengobati pipiku dengan es. “apa kau baik-baik saja?” Xavier memegang tanganku dan mengusap air mataku “aku baik-baik saja Xavier” aku sangat sedih untuk menjawab kata-kata itu. Setelah mengantarkan Xavier dan memastikan keadaanku baik, aku kembali ke apartemenku untuk beristirahat.
Selama beberapa hari ini aku dan Xavier menghabiskan waktu bersama di ruangan suci tempat kami bercanda dan bercakap-cakap. Dengan kejadian itulah aku merasakan ini yang dinamakan cinta. Xavier akan bebas besok hari, karena Xavier berkelakuan baik selama beberapa bulan ini. Aku berkata pada Bibi Monika tentang bebasnya Xavier, Bibi sangat senang mendengar berita itu.
Pagi ini aku menjemput Xavier dan membawanya ke rumah bibi. Tidak kusangka ternyata dirumah bibi ada George, aku lemas seketika “siapa laki-laki ini? jawab aku Audrey !, kau bersama seorang pembunuh bajingan ini? pantas saja aku curiga dan khawatir tentangmu, dan benar saja selama ini kau bermain dengan orang tidak sebanding denganmu !” kakaku menamparku dengan keras, tiba tiba Xavier yang melihat aku diperlakukan seenaknya oleh kakaku akan menonjok kakaku tetapi itu tidak berhasil karena bibi melerai mereka. George pergi begitu saja. Bibi membangunkan aku yang jatuh dihalaman rumahnya karena kaget melihat perlakuan kakaku, bibi mengobati pipiku dengan es. “apa kau baik-baik saja?” Xavier memegang tanganku dan mengusap air mataku “aku baik-baik saja Xavier” aku sangat sedih untuk menjawab kata-kata itu. Setelah mengantarkan Xavier dan memastikan keadaanku baik, aku kembali ke apartemenku untuk beristirahat.
Two Hearts - Part 7
Satu bulan begitu berlalu dengan cepat, pelajaran yang berharga aku dapatkan selama satu bulan ini, tetapi ini hari terakhir aku bertemu dengan Xavier karena tugas yang bibi berikan kepadaku telah selesai, aku mendadak mengeluarkan air mata dihadapannya “kau tidak apa-apa?” “iya Audrey, apa kau baik-baik saja?” Bibi Monika dan Xavier memberikan pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab. “tidak,apa-apa, sungguh aku baik-baik saja, hanya mataku perih sedikit karena kurang tidur semalam” itu adalah sebuah kebohongan yang sangat menyakitkan yang pernah aku ucapkan seumur hidupku.
Dalam perjalanan pulang aku tidak bisa berhenti memikirkannya, sampai bibi menepuk bahuku, hingga aku tersadar dari lamunanku , “jangan mengagetkanku seperti itu lagi !” aku kesal atas perlakuan bibi yang menyebalkan itu. “jangan kau menyetir dalam keadaan melamun !” bibi memutar balikan omelanku yang tadi. “kau menyukai Xavier? akhirnya selama bertahun-tahun kau tidak pernah mencintai seseorang, hatimu luluh juga terhadap terpidana mati itu” Bibi tertawa begitu hebatnya karena dia mengetahui perasaanku terhadapnya. Aku sangat malu untuk menjawabnya, aku urungkan untuk menjawab pertanyaan dari bibi.
“kau sedang dimana? cepatlah ke rumah sakit, penyakit ibu kambuh” George begitu cemas saat menelfonku. Tujuanku saat itu akan mengantar Bibi pulang tapi saat mendengar kejadian seperti itu aku langsung mengarahkan mobilku ke rumah sakit didaerah Greenwich. saat aku masuk ke ruangan rawat inap ibu, ternayata di dalam ada Louis, aku tidak menghiraukannya. Ibu yang terbujur kaku diatas tempat tidur membuat aku bersedih sambil memeluk kakaku. Bibi duduk di kursi yang tepatnya bersebelahan dengan kasur ibu. setelah beberapa jam ibu tidak sadarkan diri, tapi akhirnya ibu bisa membuka matanya dan menggerakan tangannya, aku langsung memegang tangannya “waktu ibu tidak lama lagi Audrey, ibu ingin melihat kau dan Louis menikah sebelum ibu pergi meninggalkan dunia ini,aku ingin kalian menikah 2 minggu lagi, aku mohon Audrey laksanakan permintaan ibu ini” ibu meneteskan air matanya sehingga aku tidak bisa untuk membangkang omongan ibu. Aku melihat Bibi Monika keluar dari ruangan rawat inap. “ta….pppii.. bu” aku ingin sekali menolak permintaan ibu ini, tapi mulutku tidak bisa berkata “tidak” karena melihat kondisi ibu saat ini. Louis memegang bahuku. “baiklah ibu, aku akan menikah dengannya” air mataku tidak bisa tertahan lagi, George memasang muka yang sangat menyesal telah mengenalkan temannya itu ibuku untuk menjadi calon suami adiknya. Aku langsung keluar dari ruangan rawat inap Ibu, dan menuju taman yang berada di belakang rumah sakit. ya tuhan aku tidak kuat untuk menanggung beban yang sangat berat ini, aku mohon cabut nyawaku sekarang juga ya tuhan, tolonglah…. aku tidak mencintainya tuhan. Bibi menawarkanku tisu untuk mengelap air mataku “aku tahu ini sangat berat untukmu, Miranda memang keterlaluan, sangat tidak punya perasaan, sabarlah Audrey” bibi berkata demikian sambil memelukku.
Dalam perjalanan pulang aku tidak bisa berhenti memikirkannya, sampai bibi menepuk bahuku, hingga aku tersadar dari lamunanku , “jangan mengagetkanku seperti itu lagi !” aku kesal atas perlakuan bibi yang menyebalkan itu. “jangan kau menyetir dalam keadaan melamun !” bibi memutar balikan omelanku yang tadi. “kau menyukai Xavier? akhirnya selama bertahun-tahun kau tidak pernah mencintai seseorang, hatimu luluh juga terhadap terpidana mati itu” Bibi tertawa begitu hebatnya karena dia mengetahui perasaanku terhadapnya. Aku sangat malu untuk menjawabnya, aku urungkan untuk menjawab pertanyaan dari bibi.
“kau sedang dimana? cepatlah ke rumah sakit, penyakit ibu kambuh” George begitu cemas saat menelfonku. Tujuanku saat itu akan mengantar Bibi pulang tapi saat mendengar kejadian seperti itu aku langsung mengarahkan mobilku ke rumah sakit didaerah Greenwich. saat aku masuk ke ruangan rawat inap ibu, ternayata di dalam ada Louis, aku tidak menghiraukannya. Ibu yang terbujur kaku diatas tempat tidur membuat aku bersedih sambil memeluk kakaku. Bibi duduk di kursi yang tepatnya bersebelahan dengan kasur ibu. setelah beberapa jam ibu tidak sadarkan diri, tapi akhirnya ibu bisa membuka matanya dan menggerakan tangannya, aku langsung memegang tangannya “waktu ibu tidak lama lagi Audrey, ibu ingin melihat kau dan Louis menikah sebelum ibu pergi meninggalkan dunia ini,aku ingin kalian menikah 2 minggu lagi, aku mohon Audrey laksanakan permintaan ibu ini” ibu meneteskan air matanya sehingga aku tidak bisa untuk membangkang omongan ibu. Aku melihat Bibi Monika keluar dari ruangan rawat inap. “ta….pppii.. bu” aku ingin sekali menolak permintaan ibu ini, tapi mulutku tidak bisa berkata “tidak” karena melihat kondisi ibu saat ini. Louis memegang bahuku. “baiklah ibu, aku akan menikah dengannya” air mataku tidak bisa tertahan lagi, George memasang muka yang sangat menyesal telah mengenalkan temannya itu ibuku untuk menjadi calon suami adiknya. Aku langsung keluar dari ruangan rawat inap Ibu, dan menuju taman yang berada di belakang rumah sakit. ya tuhan aku tidak kuat untuk menanggung beban yang sangat berat ini, aku mohon cabut nyawaku sekarang juga ya tuhan, tolonglah…. aku tidak mencintainya tuhan. Bibi menawarkanku tisu untuk mengelap air mataku “aku tahu ini sangat berat untukmu, Miranda memang keterlaluan, sangat tidak punya perasaan, sabarlah Audrey” bibi berkata demikian sambil memelukku.
Two Hearts - Part 6
Aku berada di ruangan suci tahanan menunggu Xavier datang, aku hanya melihat ke arah luar jendela untuk menikmati suasana dipagi hari yang belum sempat aku rasakan akhir-akhir kemarin karena kondisiku yang masih lemah. Bibi sibuk menyiapkan roti dan kopi yang biasa bibi berikan kepada Xavier, karena cuaca begitu dingin aku meminta bibi membuatkan aku satu kopi lagi, bibi tidak keberatan. Akhirnya Xavier datang, tetapi ada satu kejanggalan yang sangat aneh, tangan Xavier kali ini tidak ditemani dengan besi melingkar yang sangat menyiksa, mengapa dia tidak memakai borgol? ha? apakah dia sudah jinak? pikiran konyol pun terlintas dipikiranku, tidak hanya aku yang aneh melihat Xavier tetapi bibi juga menyadari keanehan itu. “akhirnya besi itu sudah hilang dari tanganmu, aku sangat senang melihatmu terlihat baik hari ini” senyuman Bibi yang begitu tulus ia berikan kepadanya.”menjadi orang baik tidak ada salahnya kan?” sambil bercanda mendengarkan percakapan mereka, aku meminum secangkir kopi yang bibi buatkan untukku, sambil menghangatkan tangan aku memegang cangkir kopi itu dengan kedua tanganku, “kau sudah bertunangan?” arah matanya melihat kearah tanganku lebih tepatnya jari manisku di sebelah kiri, pertanyaan yang mengagetkan membuat aku menjatuhkan cangkir kopi diatas meja hingga air kopi panas tersebut menyiram tanganku. “maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk menjadikan suasana seperti ini” wajah sangat menyesal sangatlah terlihat jelas. “apa kau tidak apa-apa Audrey?” bibi mengelap tanganku dengan sapu tangan miliknya. “tenang bi, aku tidak apa-apa, hanya sedikit perih” aku memberikan bibi dan Xavier sebuah senyuman untuk meyakinkan bahwa aku tidak apa-apa.
Suasana yang begitu menyenangkan berubah seketika menjadi hening, karena ulahku yang sangat memalukan ini. Xavier yang tadinya terlihat sangat bahagia,kini ia kembali seperti Xavier yang dulu, dia sangat dingin dan tidak mengeluarkan satu kata pun.
Aku mengantar Bibi Monika pulang ,saat aku kembali ke apartemen, aku bertanya dalam hati kecilku,aneh memang sangat aneh, apa yang bisa merubah dia menjadi seorang lelaki yang menyenangkan? dan mengapa setiap kali aku melihatnya hatiku merasakan hal yang berbeda? apa maksudnya dari semua ini? aku bingung sekali, orang yang begitu kejam sekarang berubah menjadi orang yang begitu ramah dan lembut. aku meneguk whine sambil kembali memikirkannya. Aku membuka artikel tentangnya lagi. Sungguh menyedihkan diartikel tersebut dituliskan bahwa Xavier adalah seorang yatim piatu dan dia mempunya seorang adik bernama Darwin yang sudah meinggal 5 tahun yang lalu akibat kanker otak yang dideritanya. aku sangat kaget karena Darwin adalah adiknya, karena aku pernah mendengar percakapan bibi dengan Xavier pada saat itu. ayahnya Jack begitu kejam kepada mereka, sampai-sampai mengusirnya, tidak hanya diusir perlakuan kasarnya juga membuat ibunya Christina meninggalkan Xavier dan Darwin.
Saat mereka diusir, mereka tinggal di sebuah panti asuhan di dareah Bolton, mereka kembali tidak mendapat perlakuan baik dari teman-temannya. Karena hidup mereka dari kecil begitu keras, itulah mengapa Xavier tega membunuh orang-orang yang tidak bersalah, karena pada saat kecil dia dan adiknya tidak pernah melakukan kesalahan tetapi selalu mendapat siksaan dari ayahnya sendiri.
Suasana yang begitu menyenangkan berubah seketika menjadi hening, karena ulahku yang sangat memalukan ini. Xavier yang tadinya terlihat sangat bahagia,kini ia kembali seperti Xavier yang dulu, dia sangat dingin dan tidak mengeluarkan satu kata pun.
Aku mengantar Bibi Monika pulang ,saat aku kembali ke apartemen, aku bertanya dalam hati kecilku,aneh memang sangat aneh, apa yang bisa merubah dia menjadi seorang lelaki yang menyenangkan? dan mengapa setiap kali aku melihatnya hatiku merasakan hal yang berbeda? apa maksudnya dari semua ini? aku bingung sekali, orang yang begitu kejam sekarang berubah menjadi orang yang begitu ramah dan lembut. aku meneguk whine sambil kembali memikirkannya. Aku membuka artikel tentangnya lagi. Sungguh menyedihkan diartikel tersebut dituliskan bahwa Xavier adalah seorang yatim piatu dan dia mempunya seorang adik bernama Darwin yang sudah meinggal 5 tahun yang lalu akibat kanker otak yang dideritanya. aku sangat kaget karena Darwin adalah adiknya, karena aku pernah mendengar percakapan bibi dengan Xavier pada saat itu. ayahnya Jack begitu kejam kepada mereka, sampai-sampai mengusirnya, tidak hanya diusir perlakuan kasarnya juga membuat ibunya Christina meninggalkan Xavier dan Darwin.
Saat mereka diusir, mereka tinggal di sebuah panti asuhan di dareah Bolton, mereka kembali tidak mendapat perlakuan baik dari teman-temannya. Karena hidup mereka dari kecil begitu keras, itulah mengapa Xavier tega membunuh orang-orang yang tidak bersalah, karena pada saat kecil dia dan adiknya tidak pernah melakukan kesalahan tetapi selalu mendapat siksaan dari ayahnya sendiri.
Two Hearts - Part 5
“terimakasih kau sudah mau menemaniku untuk makan malam, dan ada satu kata yang ingin ku katakan “kamu sangat cantik malam ini” kalimat yang sangat menggelikan keluar dari mulutnya, saat aku aku akan keluar dari mobil ” Audrey, pakai cincin ini ya, aku mohon !!” dia memasangkan cincin berlian yang begitu mahal pada jari manisku. “oh ya, aku ingin menanyakan sesuatu, pada saat makan malam apa yang kau pikirkan? sepertinya kau sedang tidak memikirkan aku?” Louis dengan heran menanyakannya kepadaku. “aku lelah !, aku ingin beristirahat !” pintu mobil Louis pun aku banting sekeras-kerasnya dan langsung menuju rumah.
Belum sempat aku menuju pintu kamar, ibuku mulai mengintrogasiku seperti teroris ” bagaimana? apakah menyenangkan? akhirnya hatimu luluh juga kan kepada Louis, kalau begitu aku akan percepat pernikahan ini mungkin di awal bulan kalian bisa menikah” ibu begitu yakin dengan prinsipnya yang akan menjodohkan aku dengan lelaki yang sama sekali tidak aku cintai, aku mulai naik darah !, “ibu memang keterlaluan, ibu menyuruhku menikah dengan seseorang yang sama sekali tidak aku cintai ! apa maksud ibu? apa ibu menjualku demi popularitas ibu? iya? begitukah? aku kesal dengan semua ini, sungguh kau tidak punya perasaan !” aku tidka bisa menahan air mataku, aku langsung mengunci kamarku. Aku ingat pekataan Xavier “aku tidak ingin mempunyai harapan” itulah yang saat ini aku inginkan.
ibu memilih Louis karena jika aku menikahinya, aku akan menjadi terkenal karena Louis adalah jaksa terkenal di inggris, itu yang ibu inginkan, sebuah popularitas.
Aku menjemput Bibi Monika dan kembali melakukan aktivitas menjadi seorang asisten biarawati.tibalah aku di ruangan suci tahanan, aku begitu kacau hari ini sangat kacau. “ceritalah Audrey” tiba-tiba bibi mengatakan hal yang membuat lamunanku seketika buyar “aku tahu kau sedang bersedih, kau tidak perlu membohongiku”. aku mulai memberanikan diri untuk menatap dan berbicara semua perasaanku kepadanya “Louis, iya dia adalah masalah bagi hidupku, apalagi ibu, dia sama sekali tidak pernah mengerti perasaanku, secara tidak langsung perjodohan ini tidak seperti perjodohan,terlebih seperti penjualan seorang wanita ! inilah bi mengapa aku ingin sekali menyusul ayah dan berada disampingnya, ya benar bi aku ingin mati” aku berteriak-teriak hingga aku tidak menyadari bahwa Xavier dan petugas sudah datang. Aku langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke mobilku. aku menangis dengan hebat di dalam mobil, aku kembali meminum obat tidur tidak sesuai aturan karena aku ingin cepat-cepat menyusul ayah, otak kotorku pun mengikuti perintah yang aku berikan, hingga aku tidak sadarkan diri.
Badanku begitu lemas, tak bisa aku gerakan sama sekali. “Miranda cukup !, cukup sudah kau membebani anakmu dengan perjodohan yang tidak logis ini. kau ingin melihat anakmu menderita? atau bahagia? kau tidak pernah bisa merasakan bagaimana hidup seperti dia. cukup Miranda. George aku mohon berilah pengertian terhadap Louis bahwa Audrey tidak mencintainya, George kau adalah seorang kaka yang seharusnya bertingkah bijaksana, apalagi kau adalah seorang jaksa !. jika kalian mengandalkan ego satu sama lain, sebentar lagi kau akan kehilang Audrey !” bibi keluar dari ruangan rawat inapku. Mataku sulit untuk kubuka, aku hanya bisa mendengarkan percakapan yang panjang dari mereka.
Two Hearts - Part 4
Ketika aku dalam kesusahan dan kesulitan ayahku John selalu membantuku, dia tidak pernah lelah untuk selalu memotivasi dan memberikanku semangat dalam segala hal. Aku menjadi penyanyi terkenal pada saat itu karena usaha ayahku, aku yang ingin menjadi penyanyi dan dialah yang berusaha mencarikan aku tawaran menyanyi. Berbeda dengan ibuku Miranda, dia memang sosok ibu yang baik tetapi dia tidak pernah ada jika aku membutuhkannya, dia selalu membanggakan kakaku yang seorang jaksa, ya, dia adalah George seorang laki-laki yang begitu sempurna diamatanya. Ibuku membenciku karena saat dia melahirkan aku, dia memiliki kanker payudara, mungkin karena itulah dia membenciku. Meskipun dia membenciku dia mempunyai sisi yang baik. Aku sangat rindu ayahku, semoga disurga sana ayah baik-baik saja.
Hari ini aku tidak ada jadwal dengan Bibi Monika, karena dia ada pekerjaan lain yang harus dia selesaikan. Aku hari ini tidak menginap di apartemenku, selesai menyanyi disebuah acara tiba-tiba ponselku berbunyi. “kau hari ini pulang ke rumah ibu, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu ” nada yang khas keluar begitu saja dari mulutnya tak lain dia adalah George kakaku. Aku duduk di sebuah sofa di ruangtamu untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini. Tak lama aku beristirahat tiba-tiba bel rumah pun berbunyi. Sebenarnya sangat malas sekali untuk beranjak dari sofa, tapi karena bel itu tak kunjung berhenti aku terpaksa membuka pintu itu. Sungguh aku tak percaya ternyata kakaku tidak sendirian, dia membawa temannya yang tak lain adalah calon suamiku Louis itulah namanya. “lama sekali kau membukakan pintu !” muka yang sangat lelah terpampang jelas diraut wajah kakaku. “bagaimana kabarmu? bagaimana karirmu?” Louis membuka percakapan. “baik, semua berjalan baik” singkat ku menjawab. “aku dengar kau akhir-akhir ini menjadi asisten Bibi Monika? benarkah itu?” dia kembali bertanya. “ya”. “besok malam apa kau mempunyai acara?” dia kembali memberikan aku pertanyaan yang sangat bodoh. “tidak” singkat ku menjawab “bagaimana jika kita makan malam?”. belum sempat aku menjawab tiba-tiba ibu datang dan berkata “tenang saja Louis, Audrey pasti akan makan malam denganmu” apa yang ibu katakan? apa maksudnya? sungguh menyebalkan. karena hari sudah malam dan aku tidak ingin ribut dengan ibu, aku mengiyakan tawarannya.
Louis pun menyalakan mesin mobilnya dan pamit kepada aku, kakaku, dan ibuku untuk pulang karena hari sudah malam. “aku khawatir, dengan pelajaran yang Bibi berikan kepadamu, apalagi mengajakmu kerumah tahanan terpidana mati di Manchaster” wajah yang heran terpancar dari gerak-gerik kakaku “aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir, aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri !” aku langsung bergegas pergi kekamar untuk lanjut beristirahat.
Hari ini aku tidak ada jadwal dengan Bibi Monika, karena dia ada pekerjaan lain yang harus dia selesaikan. Aku hari ini tidak menginap di apartemenku, selesai menyanyi disebuah acara tiba-tiba ponselku berbunyi. “kau hari ini pulang ke rumah ibu, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu ” nada yang khas keluar begitu saja dari mulutnya tak lain dia adalah George kakaku. Aku duduk di sebuah sofa di ruangtamu untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini. Tak lama aku beristirahat tiba-tiba bel rumah pun berbunyi. Sebenarnya sangat malas sekali untuk beranjak dari sofa, tapi karena bel itu tak kunjung berhenti aku terpaksa membuka pintu itu. Sungguh aku tak percaya ternyata kakaku tidak sendirian, dia membawa temannya yang tak lain adalah calon suamiku Louis itulah namanya. “lama sekali kau membukakan pintu !” muka yang sangat lelah terpampang jelas diraut wajah kakaku. “bagaimana kabarmu? bagaimana karirmu?” Louis membuka percakapan. “baik, semua berjalan baik” singkat ku menjawab. “aku dengar kau akhir-akhir ini menjadi asisten Bibi Monika? benarkah itu?” dia kembali bertanya. “ya”. “besok malam apa kau mempunyai acara?” dia kembali memberikan aku pertanyaan yang sangat bodoh. “tidak” singkat ku menjawab “bagaimana jika kita makan malam?”. belum sempat aku menjawab tiba-tiba ibu datang dan berkata “tenang saja Louis, Audrey pasti akan makan malam denganmu” apa yang ibu katakan? apa maksudnya? sungguh menyebalkan. karena hari sudah malam dan aku tidak ingin ribut dengan ibu, aku mengiyakan tawarannya.
Louis pun menyalakan mesin mobilnya dan pamit kepada aku, kakaku, dan ibuku untuk pulang karena hari sudah malam. “aku khawatir, dengan pelajaran yang Bibi berikan kepadamu, apalagi mengajakmu kerumah tahanan terpidana mati di Manchaster” wajah yang heran terpancar dari gerak-gerik kakaku “aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir, aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri !” aku langsung bergegas pergi kekamar untuk lanjut beristirahat.
Two Hearts - Part 3
Mataharipun memaksakan sinarnya untuk masuk melalui jendela apartemenku, aku tahu bahwa ini sudah pagi dan aku mempunyai tugas untuk menemani bibi selama satu bulan kedepan. handphoneku melantunkan lagu beatles - please mister postman, itu tandanya ada telfon masuk. itu pasti bibi, memang menyusahkan saja. “iya bi? aku tahu hari ini aku akan menjemputmu dan pergi ke sebuah tempat antah berantah” aku langsung mematikan telfon tanpa mendengar satupun jawaban dari bibi. Aku menuangkan beberapa mili whine kedalam gelasku sebelum aku pergi, karena jika tidak pikiranku akan kacau balau.
“selalu saja telat ! apa saja yang kau lakukan hingga telat seperti ini? aku tidak terbiasa dengan “keterlambatan” kamu tahu kan? ” bibi mengomel kepadaku. “aku minum whine, meroko beberapa batang dan menonton sebentar acara kesukaanku” aku menjawab dengan nada datar sambil mengarahkan pandanganku ke jalan. Muka bibi begitu kesal setelah mendengarkan jawaban dari mulutku, tapi itulah bibi dia tidak pernah marah kepadaku, dia selalu sabar dalam menghadapiku. Bibi Monika kembali ketahanan karena bibi begitu terkejut bahwa Xavier yang tadinya bersikap dingin terhadap surat-surat yang bibi kasih sekarang mendadak sedikit bersikap baik. Dia membalas surat bibi karena dia teringat adiknya yang sudah meninggal. Adiknya selalu menyanyikan lagu “selalu tersenyum” jika adiknya merasa sedang bersedih, aku mendadak terkejut karena “selalu tersenyum” adalah laguku saat aku berusia 10 tahun. Di dalam videoklip tersebut aku menari seperti layaknya anak kecil yang sama sekali tidak memiliki beban hidup, tapi itu hanyalah satu-satunya masa kecilku yang indah.
“Xavier aku sangat senang kau mau membalas suratku, dan bersikap baik kepadaku” wajah Bibi Monika sangat senang sekali, aku baru saja melihat wajah Bibi Monika sesenang saat ini. Bibi Monika dan Xavier sedang membicarakan sesuatu aku hanya mendengar sebuah nama yang asing bagiku, Darwin, ya nama itulah yang keluar saat mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Udara Manchaster hari ini memang dingin, tapi aku tidak merasakannya karena sang mentari seakan memberikan secarik kehangatan bagi masyarakatnya. Aku tidak memperdulikan percakapan mereka aku hanya menikmati udara yang segar ini ditengah suasana yang seperti gurun sahara “tahanan”. “ada yang ingin Xavier katakan kepadamu” bibi menepuk bahuku , karena aku keasikan melihat pemandangan diluar sana. “terimakasih kau sudah mau datang, mungkin adikku dialam sana sangat senang karena orang yang dia sukai telah ada di tempat yang menyeramkan seperti ini” dia mengeluarkan sebuah senyuman yang menurutku itu sebuah senyuman yang tulus atau terpaksa. Tenggorokanku seakan tersendat hingga tidak bisa mengucapkan satu kalimat pun “saa…saamma..saa…ma Xavier” aku ingin tertwa tetapi aku tidak sangat tidak bisa !.
Aku tidak mengerti otakku sangat kacau setelah pertemuan di ruangan itu. Aku membuka komputerku dan membuka artikel tentang Xavier Alfred Jhonson, aku sangat terkejut. Di dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Xavier adalah pembunuh wanita dan pemerkosa gadis dibawah umur yang kira-kira berusia 17 tahun, bulu kudukku merinding mataku seperti akan keluar karena membaca artikel yang menurutku mengerikan, bibirku tidak bisa mengatakan satu katapun. Seharusnya orang seperti itu tidak pantas untuk hidup !, untuk apa dia hidup begitu lama menunggu putusan hukuman matinya memang laki-laki biadab.
“selalu saja telat ! apa saja yang kau lakukan hingga telat seperti ini? aku tidak terbiasa dengan “keterlambatan” kamu tahu kan? ” bibi mengomel kepadaku. “aku minum whine, meroko beberapa batang dan menonton sebentar acara kesukaanku” aku menjawab dengan nada datar sambil mengarahkan pandanganku ke jalan. Muka bibi begitu kesal setelah mendengarkan jawaban dari mulutku, tapi itulah bibi dia tidak pernah marah kepadaku, dia selalu sabar dalam menghadapiku. Bibi Monika kembali ketahanan karena bibi begitu terkejut bahwa Xavier yang tadinya bersikap dingin terhadap surat-surat yang bibi kasih sekarang mendadak sedikit bersikap baik. Dia membalas surat bibi karena dia teringat adiknya yang sudah meninggal. Adiknya selalu menyanyikan lagu “selalu tersenyum” jika adiknya merasa sedang bersedih, aku mendadak terkejut karena “selalu tersenyum” adalah laguku saat aku berusia 10 tahun. Di dalam videoklip tersebut aku menari seperti layaknya anak kecil yang sama sekali tidak memiliki beban hidup, tapi itu hanyalah satu-satunya masa kecilku yang indah.
“Xavier aku sangat senang kau mau membalas suratku, dan bersikap baik kepadaku” wajah Bibi Monika sangat senang sekali, aku baru saja melihat wajah Bibi Monika sesenang saat ini. Bibi Monika dan Xavier sedang membicarakan sesuatu aku hanya mendengar sebuah nama yang asing bagiku, Darwin, ya nama itulah yang keluar saat mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Udara Manchaster hari ini memang dingin, tapi aku tidak merasakannya karena sang mentari seakan memberikan secarik kehangatan bagi masyarakatnya. Aku tidak memperdulikan percakapan mereka aku hanya menikmati udara yang segar ini ditengah suasana yang seperti gurun sahara “tahanan”. “ada yang ingin Xavier katakan kepadamu” bibi menepuk bahuku , karena aku keasikan melihat pemandangan diluar sana. “terimakasih kau sudah mau datang, mungkin adikku dialam sana sangat senang karena orang yang dia sukai telah ada di tempat yang menyeramkan seperti ini” dia mengeluarkan sebuah senyuman yang menurutku itu sebuah senyuman yang tulus atau terpaksa. Tenggorokanku seakan tersendat hingga tidak bisa mengucapkan satu kalimat pun “saa…saamma..saa…ma Xavier” aku ingin tertwa tetapi aku tidak sangat tidak bisa !.
Aku tidak mengerti otakku sangat kacau setelah pertemuan di ruangan itu. Aku membuka komputerku dan membuka artikel tentang Xavier Alfred Jhonson, aku sangat terkejut. Di dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Xavier adalah pembunuh wanita dan pemerkosa gadis dibawah umur yang kira-kira berusia 17 tahun, bulu kudukku merinding mataku seperti akan keluar karena membaca artikel yang menurutku mengerikan, bibirku tidak bisa mengatakan satu katapun. Seharusnya orang seperti itu tidak pantas untuk hidup !, untuk apa dia hidup begitu lama menunggu putusan hukuman matinya memang laki-laki biadab.
Two Hearts - Part 2
Cuaca Inggris hari ini benar-benar sangat dingin. Bibi Monika adalah kakak dari Ibuku , dia bekerja sebagai biarawati. Selama hidupnya dia habiskan untuk membatu orang-orang yang memang membutuhkan bantuannya. Bibi Monika mengajakku ke sebuah rumah tahanan yang berada di daerah Manchaster. “aku menunggu di mobil, aku tidak ingin masuk ke tempat yang memuakan seperti ini” aku mengelak untuk mengikutinya masuk “kau harus masuk !! kau sendiri yang menerima tawaranku waktu itu kan? kau sudah lupa? ayo masuk” bibiku mulai mengancamku seperti anak kecil. Lagi lagi aku terpaksa mengikuti perintahnya.
Lorong demi lorong aku melihat semua orang memakai baju abu-abu dengan nomor berwarna hitam di bagian dada sebelah kanan “apa yang mereka lakukan ditempat seperti ini? apa yang membuat dia berada di tempat menyeramkan seperti ini?” aku berbicara dalam hati. Tibalah aku dan Bibi Monika di salah satu ruangan suci tempat para tahanan berdoa. “dia sudah datang” polisi pun membawa seseorang laki-laki yang bertubuh tegap, berkulit putih asia, seperti turunan korea inggris, dan rambut yang aga botak, dengan tangan diborgol. “hai Xavier, akhirnya aku bertemu juga denganmu” bibi mempersilahkannya duduk. “ayo makanlah kau tidak usah ragu-ragu” bibi mengeluarkan roti dan membuatkannya kopi “ayo makanlah jangan sungkan-sungkan” bibi menjejali tangan Xavier dengan roti yang dibawanya. Xavier hanya diam dan duduk seperti siput, dia tidak berkutik sama sekali.
Bibi meminta petugas untuk membuka borgolnya, karena dia pikir dia tidak bisa makan karena tangannya diborgol, tetapi petugas itu tidak bisa melakukan yang Bibi Monika perintahkan “terimakasih sebelumnya karena setelah sekian lama kau tidak membalas suartku, apa yg membawamu untuk membalas suraktu?” bibi Monika mulai menanyakannya, jawaban yang tidak kami duga pun keluar begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu “aku muak denganmu, muak dengan semua surat-surat yang kau kirim, kau seperti malaikat yang diturunkan tuhan untuk membatuku, tapi aku tidak berfikir seperti itu, kau selalu memberiku harapan untuk hidup? ingat ! aku tidak butuh semua itu ! aku narapidana yang dihukum mati ! jadi? untuk apa aku mempunyai harapan yang belum tentu bisa diwujudkan, ingat! kau tidak perlu menjengukku dan memberikan aku surat!.” dia bergegas pergi darikursi yang ia duduki. “tunggu !, petugas tolong berikan baju hangat ini dan beberapa roti untuknya, tolonglah meskipun aku tahu ini ilegal tapi tolonglah” bibi memelas kepada petugas. saat petugas memberikannya semua pemberian bibi kepada Xavier, dia menjatuhkannya begitu saja. “ahahaha” aku tidak bisa menahan, aku ingin sekali tertawa melihatnya, semua mata tertuju padaku. “Xavier dia adalah keponakannya Bibi Monika, dan dia adalah seorang penyanyi” petugas memperkenalkan aku kepadanya. Tatapan yang dingin membuatku tak tahan ingin tertawa, tak lama kemudia dia pergi begitu saja.
“kau memang wanita aneh ! bisa-bisanya kau tertawa dalam situasi seperti itu? memang tidak berguna” Bibi memarahiku sepanjang jalan pulang “aku hanya tidak tahan melihat kelakuanmu yang bertingkah seperti ibunya, itu menurutku sangat menggelikan” aku hanya tertawa jika mengingat kejadian yang sangat aneh itu.
Lorong demi lorong aku melihat semua orang memakai baju abu-abu dengan nomor berwarna hitam di bagian dada sebelah kanan “apa yang mereka lakukan ditempat seperti ini? apa yang membuat dia berada di tempat menyeramkan seperti ini?” aku berbicara dalam hati. Tibalah aku dan Bibi Monika di salah satu ruangan suci tempat para tahanan berdoa. “dia sudah datang” polisi pun membawa seseorang laki-laki yang bertubuh tegap, berkulit putih asia, seperti turunan korea inggris, dan rambut yang aga botak, dengan tangan diborgol. “hai Xavier, akhirnya aku bertemu juga denganmu” bibi mempersilahkannya duduk. “ayo makanlah kau tidak usah ragu-ragu” bibi mengeluarkan roti dan membuatkannya kopi “ayo makanlah jangan sungkan-sungkan” bibi menjejali tangan Xavier dengan roti yang dibawanya. Xavier hanya diam dan duduk seperti siput, dia tidak berkutik sama sekali.
Bibi meminta petugas untuk membuka borgolnya, karena dia pikir dia tidak bisa makan karena tangannya diborgol, tetapi petugas itu tidak bisa melakukan yang Bibi Monika perintahkan “terimakasih sebelumnya karena setelah sekian lama kau tidak membalas suartku, apa yg membawamu untuk membalas suraktu?” bibi Monika mulai menanyakannya, jawaban yang tidak kami duga pun keluar begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu “aku muak denganmu, muak dengan semua surat-surat yang kau kirim, kau seperti malaikat yang diturunkan tuhan untuk membatuku, tapi aku tidak berfikir seperti itu, kau selalu memberiku harapan untuk hidup? ingat ! aku tidak butuh semua itu ! aku narapidana yang dihukum mati ! jadi? untuk apa aku mempunyai harapan yang belum tentu bisa diwujudkan, ingat! kau tidak perlu menjengukku dan memberikan aku surat!.” dia bergegas pergi darikursi yang ia duduki. “tunggu !, petugas tolong berikan baju hangat ini dan beberapa roti untuknya, tolonglah meskipun aku tahu ini ilegal tapi tolonglah” bibi memelas kepada petugas. saat petugas memberikannya semua pemberian bibi kepada Xavier, dia menjatuhkannya begitu saja. “ahahaha” aku tidak bisa menahan, aku ingin sekali tertawa melihatnya, semua mata tertuju padaku. “Xavier dia adalah keponakannya Bibi Monika, dan dia adalah seorang penyanyi” petugas memperkenalkan aku kepadanya. Tatapan yang dingin membuatku tak tahan ingin tertawa, tak lama kemudia dia pergi begitu saja.
“kau memang wanita aneh ! bisa-bisanya kau tertawa dalam situasi seperti itu? memang tidak berguna” Bibi memarahiku sepanjang jalan pulang “aku hanya tidak tahan melihat kelakuanmu yang bertingkah seperti ibunya, itu menurutku sangat menggelikan” aku hanya tertawa jika mengingat kejadian yang sangat aneh itu.
Two Hearts - Part 1
Namaku Audrey, aku benci dunia ini sungguh benci dan muak !, orang tuaku dan keluarga-keluargaku menganggapku seperti “sampah” ya begitulah kenyataannya. Salju turun begitu lembut menutupi sebagian jalan, lampu mobil memperlihatkan salju-salju yang turun begitu lembut yang hanya bisa dilihat oleh cahaya mobil yang aku kemudikan. Asap roko seperti debu yang memenuhi seluruh dalam mobil. Aku rebahkan tubuhku di salah satu sofa di apartemenku untuk mengumpulkan kembali energi yang sudah kugunakan.
Mataku terbuka, dan aku ingat tempat ini pernah aku kunjungi, mataku sekarang terbuka lebar, ya benar saja tempat ini penuh dengan peralatan kesehatan, rumah sakit , aku sudah sering masuk rumah sakit karena ulahku sendiri yang ingin hilang dari dunia ini dan tak ingin menjadi beban untuk orangtuaku “ibu” . Percobaan bunuh diri yang sering aku lakukan tak pernah berhasil, “apa maksud tuhan dengan semua ini? apa dia membutuhkan ku? apa tuhan ingin aku berubah? apa yang sebenarnya tuhan inginkan hingga dia tidak mengijinkanku untuk meninggalkan dunia ini?” itulah kata-kata yang sering aku keluarkan jika percobaan bunuh diriku tidak berhasil. “apa yang sebenarnya kau inginkan?” dengan wajah yang kusut ibu memarahiku “aku ingin mengakhiri hidup ini” “apa? kau ingin mati ! kau sudah gila ! benar-benar gila !” nada yang begitu kasar keluar dari mulutnya “ya , benar aku sudah gila karenamu ! ingat karenamu !!”. butiran air matapun menetes dari matanya.
Langkah kakiku pun sedikit demi sedikit mencapai ambang pintu keluar dari ruangan inap ku. Pohon-pohon yang hijau kini menjadi putih ditutupi oleh salju, jendela pun ikut terkena embun yang begitu lembut. Aku keluarkan sebatang roko yang berada disaku baju. Suasana yang hening di antara lorong rumah sakit membuatku sedikit takut, aku baru ingat mengapa diriku bisa ada di tempat menyeramkam ini, obat tidur yang sering aku minum tidak kuminum sesuai aturan hingga aku overdosis, tapi memang itu yang kuinginkan !, tetap saja tidak berhasil. Otakku mulai gila, terbesit pikiran yang sudah lama aku inginkan tetapi aku belum berani melakukannya, terjun dari lantai 15 apartemenku memang berhasil tapi nyaliku belum bisa untuk menerimanya. Asap rokok pun memenuhi hampir sebagian lorong. seorang wanita menepuk bahuku “memang wanita yang tidak berguna” seorang wanita berumur sekitar 70 tahun, bibi Monika namanya “memang aku tidak berguna” “selama satu bulan ini kau mau ikut terapi dirumah sakit bersama pamanmu atau ikut denganku?” dia menawarkan 2 pilihan yang membuatku bingung “ayo cepat, aku tidak punya waktu” sepertinya dia sedang buru-buru “em…emmmm aku ikut denganmu” dengan nada terpaksa, aku mengiyakan tawarannya.
Mataku terbuka, dan aku ingat tempat ini pernah aku kunjungi, mataku sekarang terbuka lebar, ya benar saja tempat ini penuh dengan peralatan kesehatan, rumah sakit , aku sudah sering masuk rumah sakit karena ulahku sendiri yang ingin hilang dari dunia ini dan tak ingin menjadi beban untuk orangtuaku “ibu” . Percobaan bunuh diri yang sering aku lakukan tak pernah berhasil, “apa maksud tuhan dengan semua ini? apa dia membutuhkan ku? apa tuhan ingin aku berubah? apa yang sebenarnya tuhan inginkan hingga dia tidak mengijinkanku untuk meninggalkan dunia ini?” itulah kata-kata yang sering aku keluarkan jika percobaan bunuh diriku tidak berhasil. “apa yang sebenarnya kau inginkan?” dengan wajah yang kusut ibu memarahiku “aku ingin mengakhiri hidup ini” “apa? kau ingin mati ! kau sudah gila ! benar-benar gila !” nada yang begitu kasar keluar dari mulutnya “ya , benar aku sudah gila karenamu ! ingat karenamu !!”. butiran air matapun menetes dari matanya.
Langkah kakiku pun sedikit demi sedikit mencapai ambang pintu keluar dari ruangan inap ku. Pohon-pohon yang hijau kini menjadi putih ditutupi oleh salju, jendela pun ikut terkena embun yang begitu lembut. Aku keluarkan sebatang roko yang berada disaku baju. Suasana yang hening di antara lorong rumah sakit membuatku sedikit takut, aku baru ingat mengapa diriku bisa ada di tempat menyeramkam ini, obat tidur yang sering aku minum tidak kuminum sesuai aturan hingga aku overdosis, tapi memang itu yang kuinginkan !, tetap saja tidak berhasil. Otakku mulai gila, terbesit pikiran yang sudah lama aku inginkan tetapi aku belum berani melakukannya, terjun dari lantai 15 apartemenku memang berhasil tapi nyaliku belum bisa untuk menerimanya. Asap rokok pun memenuhi hampir sebagian lorong. seorang wanita menepuk bahuku “memang wanita yang tidak berguna” seorang wanita berumur sekitar 70 tahun, bibi Monika namanya “memang aku tidak berguna” “selama satu bulan ini kau mau ikut terapi dirumah sakit bersama pamanmu atau ikut denganku?” dia menawarkan 2 pilihan yang membuatku bingung “ayo cepat, aku tidak punya waktu” sepertinya dia sedang buru-buru “em…emmmm aku ikut denganmu” dengan nada terpaksa, aku mengiyakan tawarannya.
Langganan:
Komentar (Atom)