5.06.2013

Two Hearts - Part 3

Mataharipun memaksakan sinarnya untuk masuk melalui jendela apartemenku, aku tahu bahwa ini sudah pagi dan aku mempunyai tugas untuk menemani bibi selama satu bulan kedepan. handphoneku melantunkan lagu beatles - please mister postman, itu tandanya ada telfon masuk. itu pasti bibi, memang menyusahkan saja. “iya bi? aku tahu hari ini aku akan menjemputmu dan pergi ke sebuah tempat antah berantah” aku langsung mematikan telfon tanpa mendengar satupun jawaban dari bibi. Aku menuangkan beberapa mili whine kedalam gelasku sebelum aku pergi, karena jika tidak pikiranku akan kacau balau.


“selalu saja telat ! apa saja yang kau lakukan hingga telat seperti ini? aku tidak terbiasa dengan “keterlambatan” kamu tahu kan? ” bibi mengomel kepadaku. “aku minum whine, meroko beberapa batang dan menonton sebentar acara kesukaanku” aku menjawab dengan nada datar sambil mengarahkan pandanganku ke jalan. Muka bibi begitu kesal setelah mendengarkan jawaban dari mulutku, tapi itulah bibi dia tidak pernah marah kepadaku, dia selalu sabar dalam menghadapiku. Bibi Monika kembali ketahanan karena bibi begitu terkejut bahwa Xavier yang tadinya bersikap dingin terhadap surat-surat yang bibi kasih sekarang mendadak sedikit bersikap baik. Dia membalas surat bibi karena dia teringat adiknya yang sudah meninggal. Adiknya selalu menyanyikan lagu “selalu tersenyum” jika adiknya merasa sedang bersedih, aku mendadak terkejut karena “selalu tersenyum” adalah laguku saat aku berusia 10 tahun. Di dalam videoklip tersebut aku menari seperti layaknya anak kecil yang sama sekali tidak memiliki beban hidup, tapi itu hanyalah satu-satunya masa kecilku yang indah.


“Xavier aku sangat senang kau mau membalas suratku, dan bersikap baik kepadaku” wajah Bibi Monika sangat senang sekali, aku baru saja melihat wajah Bibi Monika sesenang saat ini. Bibi Monika dan Xavier sedang membicarakan sesuatu aku hanya mendengar sebuah nama yang asing bagiku, Darwin, ya nama itulah yang keluar saat mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Udara Manchaster hari ini memang dingin, tapi aku tidak merasakannya karena sang mentari seakan memberikan secarik kehangatan bagi masyarakatnya. Aku tidak memperdulikan percakapan mereka aku hanya menikmati udara yang segar ini ditengah suasana yang seperti gurun sahara “tahanan”. “ada yang ingin Xavier katakan kepadamu” bibi menepuk bahuku , karena aku keasikan melihat pemandangan diluar sana. “terimakasih kau sudah mau datang, mungkin adikku dialam sana sangat senang karena orang yang dia sukai telah ada di tempat yang menyeramkan seperti ini” dia mengeluarkan sebuah senyuman yang menurutku itu sebuah senyuman yang tulus atau terpaksa. Tenggorokanku seakan tersendat hingga tidak bisa mengucapkan satu kalimat pun “saa…saamma..saa…ma Xavier” aku ingin tertwa tetapi aku tidak sangat tidak bisa !.


Aku tidak mengerti otakku sangat kacau setelah pertemuan di ruangan itu. Aku membuka komputerku dan membuka artikel tentang Xavier Alfred Jhonson, aku sangat terkejut. Di dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Xavier adalah pembunuh wanita dan pemerkosa gadis dibawah umur yang kira-kira berusia 17 tahun, bulu kudukku merinding mataku seperti akan keluar karena membaca artikel yang menurutku mengerikan, bibirku tidak bisa mengatakan satu katapun. Seharusnya orang seperti itu tidak pantas untuk hidup !, untuk apa dia hidup begitu lama menunggu putusan hukuman matinya memang laki-laki biadab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar