Ketika aku dalam kesusahan dan kesulitan ayahku John selalu membantuku, dia tidak pernah lelah untuk selalu memotivasi dan memberikanku semangat dalam segala hal. Aku menjadi penyanyi terkenal pada saat itu karena usaha ayahku, aku yang ingin menjadi penyanyi dan dialah yang berusaha mencarikan aku tawaran menyanyi. Berbeda dengan ibuku Miranda, dia memang sosok ibu yang baik tetapi dia tidak pernah ada jika aku membutuhkannya, dia selalu membanggakan kakaku yang seorang jaksa, ya, dia adalah George seorang laki-laki yang begitu sempurna diamatanya. Ibuku membenciku karena saat dia melahirkan aku, dia memiliki kanker payudara, mungkin karena itulah dia membenciku. Meskipun dia membenciku dia mempunyai sisi yang baik. Aku sangat rindu ayahku, semoga disurga sana ayah baik-baik saja.
Hari ini aku tidak ada jadwal dengan Bibi Monika, karena dia ada pekerjaan lain yang harus dia selesaikan. Aku hari ini tidak menginap di apartemenku, selesai menyanyi disebuah acara tiba-tiba ponselku berbunyi. “kau hari ini pulang ke rumah ibu, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu ” nada yang khas keluar begitu saja dari mulutnya tak lain dia adalah George kakaku. Aku duduk di sebuah sofa di ruangtamu untuk mengistirahatkan tubuhku yang lelah ini. Tak lama aku beristirahat tiba-tiba bel rumah pun berbunyi. Sebenarnya sangat malas sekali untuk beranjak dari sofa, tapi karena bel itu tak kunjung berhenti aku terpaksa membuka pintu itu. Sungguh aku tak percaya ternyata kakaku tidak sendirian, dia membawa temannya yang tak lain adalah calon suamiku Louis itulah namanya. “lama sekali kau membukakan pintu !” muka yang sangat lelah terpampang jelas diraut wajah kakaku. “bagaimana kabarmu? bagaimana karirmu?” Louis membuka percakapan. “baik, semua berjalan baik” singkat ku menjawab. “aku dengar kau akhir-akhir ini menjadi asisten Bibi Monika? benarkah itu?” dia kembali bertanya. “ya”. “besok malam apa kau mempunyai acara?” dia kembali memberikan aku pertanyaan yang sangat bodoh. “tidak” singkat ku menjawab “bagaimana jika kita makan malam?”. belum sempat aku menjawab tiba-tiba ibu datang dan berkata “tenang saja Louis, Audrey pasti akan makan malam denganmu” apa yang ibu katakan? apa maksudnya? sungguh menyebalkan. karena hari sudah malam dan aku tidak ingin ribut dengan ibu, aku mengiyakan tawarannya.
Louis pun menyalakan mesin mobilnya dan pamit kepada aku, kakaku, dan ibuku untuk pulang karena hari sudah malam. “aku khawatir, dengan pelajaran yang Bibi berikan kepadamu, apalagi mengajakmu kerumah tahanan terpidana mati di Manchaster” wajah yang heran terpancar dari gerak-gerik kakaku “aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir, aku sudah besar, aku bisa menjaga diriku sendiri !” aku langsung bergegas pergi kekamar untuk lanjut beristirahat.
5.06.2013
Two Hearts - Part 3
Mataharipun memaksakan sinarnya untuk masuk melalui jendela apartemenku, aku tahu bahwa ini sudah pagi dan aku mempunyai tugas untuk menemani bibi selama satu bulan kedepan. handphoneku melantunkan lagu beatles - please mister postman, itu tandanya ada telfon masuk. itu pasti bibi, memang menyusahkan saja. “iya bi? aku tahu hari ini aku akan menjemputmu dan pergi ke sebuah tempat antah berantah” aku langsung mematikan telfon tanpa mendengar satupun jawaban dari bibi. Aku menuangkan beberapa mili whine kedalam gelasku sebelum aku pergi, karena jika tidak pikiranku akan kacau balau.
“selalu saja telat ! apa saja yang kau lakukan hingga telat seperti ini? aku tidak terbiasa dengan “keterlambatan” kamu tahu kan? ” bibi mengomel kepadaku. “aku minum whine, meroko beberapa batang dan menonton sebentar acara kesukaanku” aku menjawab dengan nada datar sambil mengarahkan pandanganku ke jalan. Muka bibi begitu kesal setelah mendengarkan jawaban dari mulutku, tapi itulah bibi dia tidak pernah marah kepadaku, dia selalu sabar dalam menghadapiku. Bibi Monika kembali ketahanan karena bibi begitu terkejut bahwa Xavier yang tadinya bersikap dingin terhadap surat-surat yang bibi kasih sekarang mendadak sedikit bersikap baik. Dia membalas surat bibi karena dia teringat adiknya yang sudah meninggal. Adiknya selalu menyanyikan lagu “selalu tersenyum” jika adiknya merasa sedang bersedih, aku mendadak terkejut karena “selalu tersenyum” adalah laguku saat aku berusia 10 tahun. Di dalam videoklip tersebut aku menari seperti layaknya anak kecil yang sama sekali tidak memiliki beban hidup, tapi itu hanyalah satu-satunya masa kecilku yang indah.
“Xavier aku sangat senang kau mau membalas suratku, dan bersikap baik kepadaku” wajah Bibi Monika sangat senang sekali, aku baru saja melihat wajah Bibi Monika sesenang saat ini. Bibi Monika dan Xavier sedang membicarakan sesuatu aku hanya mendengar sebuah nama yang asing bagiku, Darwin, ya nama itulah yang keluar saat mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Udara Manchaster hari ini memang dingin, tapi aku tidak merasakannya karena sang mentari seakan memberikan secarik kehangatan bagi masyarakatnya. Aku tidak memperdulikan percakapan mereka aku hanya menikmati udara yang segar ini ditengah suasana yang seperti gurun sahara “tahanan”. “ada yang ingin Xavier katakan kepadamu” bibi menepuk bahuku , karena aku keasikan melihat pemandangan diluar sana. “terimakasih kau sudah mau datang, mungkin adikku dialam sana sangat senang karena orang yang dia sukai telah ada di tempat yang menyeramkan seperti ini” dia mengeluarkan sebuah senyuman yang menurutku itu sebuah senyuman yang tulus atau terpaksa. Tenggorokanku seakan tersendat hingga tidak bisa mengucapkan satu kalimat pun “saa…saamma..saa…ma Xavier” aku ingin tertwa tetapi aku tidak sangat tidak bisa !.
Aku tidak mengerti otakku sangat kacau setelah pertemuan di ruangan itu. Aku membuka komputerku dan membuka artikel tentang Xavier Alfred Jhonson, aku sangat terkejut. Di dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Xavier adalah pembunuh wanita dan pemerkosa gadis dibawah umur yang kira-kira berusia 17 tahun, bulu kudukku merinding mataku seperti akan keluar karena membaca artikel yang menurutku mengerikan, bibirku tidak bisa mengatakan satu katapun. Seharusnya orang seperti itu tidak pantas untuk hidup !, untuk apa dia hidup begitu lama menunggu putusan hukuman matinya memang laki-laki biadab.
“selalu saja telat ! apa saja yang kau lakukan hingga telat seperti ini? aku tidak terbiasa dengan “keterlambatan” kamu tahu kan? ” bibi mengomel kepadaku. “aku minum whine, meroko beberapa batang dan menonton sebentar acara kesukaanku” aku menjawab dengan nada datar sambil mengarahkan pandanganku ke jalan. Muka bibi begitu kesal setelah mendengarkan jawaban dari mulutku, tapi itulah bibi dia tidak pernah marah kepadaku, dia selalu sabar dalam menghadapiku. Bibi Monika kembali ketahanan karena bibi begitu terkejut bahwa Xavier yang tadinya bersikap dingin terhadap surat-surat yang bibi kasih sekarang mendadak sedikit bersikap baik. Dia membalas surat bibi karena dia teringat adiknya yang sudah meninggal. Adiknya selalu menyanyikan lagu “selalu tersenyum” jika adiknya merasa sedang bersedih, aku mendadak terkejut karena “selalu tersenyum” adalah laguku saat aku berusia 10 tahun. Di dalam videoklip tersebut aku menari seperti layaknya anak kecil yang sama sekali tidak memiliki beban hidup, tapi itu hanyalah satu-satunya masa kecilku yang indah.
“Xavier aku sangat senang kau mau membalas suratku, dan bersikap baik kepadaku” wajah Bibi Monika sangat senang sekali, aku baru saja melihat wajah Bibi Monika sesenang saat ini. Bibi Monika dan Xavier sedang membicarakan sesuatu aku hanya mendengar sebuah nama yang asing bagiku, Darwin, ya nama itulah yang keluar saat mereka sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting. Udara Manchaster hari ini memang dingin, tapi aku tidak merasakannya karena sang mentari seakan memberikan secarik kehangatan bagi masyarakatnya. Aku tidak memperdulikan percakapan mereka aku hanya menikmati udara yang segar ini ditengah suasana yang seperti gurun sahara “tahanan”. “ada yang ingin Xavier katakan kepadamu” bibi menepuk bahuku , karena aku keasikan melihat pemandangan diluar sana. “terimakasih kau sudah mau datang, mungkin adikku dialam sana sangat senang karena orang yang dia sukai telah ada di tempat yang menyeramkan seperti ini” dia mengeluarkan sebuah senyuman yang menurutku itu sebuah senyuman yang tulus atau terpaksa. Tenggorokanku seakan tersendat hingga tidak bisa mengucapkan satu kalimat pun “saa…saamma..saa…ma Xavier” aku ingin tertwa tetapi aku tidak sangat tidak bisa !.
Aku tidak mengerti otakku sangat kacau setelah pertemuan di ruangan itu. Aku membuka komputerku dan membuka artikel tentang Xavier Alfred Jhonson, aku sangat terkejut. Di dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa Xavier adalah pembunuh wanita dan pemerkosa gadis dibawah umur yang kira-kira berusia 17 tahun, bulu kudukku merinding mataku seperti akan keluar karena membaca artikel yang menurutku mengerikan, bibirku tidak bisa mengatakan satu katapun. Seharusnya orang seperti itu tidak pantas untuk hidup !, untuk apa dia hidup begitu lama menunggu putusan hukuman matinya memang laki-laki biadab.
Two Hearts - Part 2
Cuaca Inggris hari ini benar-benar sangat dingin. Bibi Monika adalah kakak dari Ibuku , dia bekerja sebagai biarawati. Selama hidupnya dia habiskan untuk membatu orang-orang yang memang membutuhkan bantuannya. Bibi Monika mengajakku ke sebuah rumah tahanan yang berada di daerah Manchaster. “aku menunggu di mobil, aku tidak ingin masuk ke tempat yang memuakan seperti ini” aku mengelak untuk mengikutinya masuk “kau harus masuk !! kau sendiri yang menerima tawaranku waktu itu kan? kau sudah lupa? ayo masuk” bibiku mulai mengancamku seperti anak kecil. Lagi lagi aku terpaksa mengikuti perintahnya.
Lorong demi lorong aku melihat semua orang memakai baju abu-abu dengan nomor berwarna hitam di bagian dada sebelah kanan “apa yang mereka lakukan ditempat seperti ini? apa yang membuat dia berada di tempat menyeramkan seperti ini?” aku berbicara dalam hati. Tibalah aku dan Bibi Monika di salah satu ruangan suci tempat para tahanan berdoa. “dia sudah datang” polisi pun membawa seseorang laki-laki yang bertubuh tegap, berkulit putih asia, seperti turunan korea inggris, dan rambut yang aga botak, dengan tangan diborgol. “hai Xavier, akhirnya aku bertemu juga denganmu” bibi mempersilahkannya duduk. “ayo makanlah kau tidak usah ragu-ragu” bibi mengeluarkan roti dan membuatkannya kopi “ayo makanlah jangan sungkan-sungkan” bibi menjejali tangan Xavier dengan roti yang dibawanya. Xavier hanya diam dan duduk seperti siput, dia tidak berkutik sama sekali.
Bibi meminta petugas untuk membuka borgolnya, karena dia pikir dia tidak bisa makan karena tangannya diborgol, tetapi petugas itu tidak bisa melakukan yang Bibi Monika perintahkan “terimakasih sebelumnya karena setelah sekian lama kau tidak membalas suartku, apa yg membawamu untuk membalas suraktu?” bibi Monika mulai menanyakannya, jawaban yang tidak kami duga pun keluar begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu “aku muak denganmu, muak dengan semua surat-surat yang kau kirim, kau seperti malaikat yang diturunkan tuhan untuk membatuku, tapi aku tidak berfikir seperti itu, kau selalu memberiku harapan untuk hidup? ingat ! aku tidak butuh semua itu ! aku narapidana yang dihukum mati ! jadi? untuk apa aku mempunyai harapan yang belum tentu bisa diwujudkan, ingat! kau tidak perlu menjengukku dan memberikan aku surat!.” dia bergegas pergi darikursi yang ia duduki. “tunggu !, petugas tolong berikan baju hangat ini dan beberapa roti untuknya, tolonglah meskipun aku tahu ini ilegal tapi tolonglah” bibi memelas kepada petugas. saat petugas memberikannya semua pemberian bibi kepada Xavier, dia menjatuhkannya begitu saja. “ahahaha” aku tidak bisa menahan, aku ingin sekali tertawa melihatnya, semua mata tertuju padaku. “Xavier dia adalah keponakannya Bibi Monika, dan dia adalah seorang penyanyi” petugas memperkenalkan aku kepadanya. Tatapan yang dingin membuatku tak tahan ingin tertawa, tak lama kemudia dia pergi begitu saja.
“kau memang wanita aneh ! bisa-bisanya kau tertawa dalam situasi seperti itu? memang tidak berguna” Bibi memarahiku sepanjang jalan pulang “aku hanya tidak tahan melihat kelakuanmu yang bertingkah seperti ibunya, itu menurutku sangat menggelikan” aku hanya tertawa jika mengingat kejadian yang sangat aneh itu.
Lorong demi lorong aku melihat semua orang memakai baju abu-abu dengan nomor berwarna hitam di bagian dada sebelah kanan “apa yang mereka lakukan ditempat seperti ini? apa yang membuat dia berada di tempat menyeramkan seperti ini?” aku berbicara dalam hati. Tibalah aku dan Bibi Monika di salah satu ruangan suci tempat para tahanan berdoa. “dia sudah datang” polisi pun membawa seseorang laki-laki yang bertubuh tegap, berkulit putih asia, seperti turunan korea inggris, dan rambut yang aga botak, dengan tangan diborgol. “hai Xavier, akhirnya aku bertemu juga denganmu” bibi mempersilahkannya duduk. “ayo makanlah kau tidak usah ragu-ragu” bibi mengeluarkan roti dan membuatkannya kopi “ayo makanlah jangan sungkan-sungkan” bibi menjejali tangan Xavier dengan roti yang dibawanya. Xavier hanya diam dan duduk seperti siput, dia tidak berkutik sama sekali.
Bibi meminta petugas untuk membuka borgolnya, karena dia pikir dia tidak bisa makan karena tangannya diborgol, tetapi petugas itu tidak bisa melakukan yang Bibi Monika perintahkan “terimakasih sebelumnya karena setelah sekian lama kau tidak membalas suartku, apa yg membawamu untuk membalas suraktu?” bibi Monika mulai menanyakannya, jawaban yang tidak kami duga pun keluar begitu saja tanpa dipikirkan terlebih dahulu “aku muak denganmu, muak dengan semua surat-surat yang kau kirim, kau seperti malaikat yang diturunkan tuhan untuk membatuku, tapi aku tidak berfikir seperti itu, kau selalu memberiku harapan untuk hidup? ingat ! aku tidak butuh semua itu ! aku narapidana yang dihukum mati ! jadi? untuk apa aku mempunyai harapan yang belum tentu bisa diwujudkan, ingat! kau tidak perlu menjengukku dan memberikan aku surat!.” dia bergegas pergi darikursi yang ia duduki. “tunggu !, petugas tolong berikan baju hangat ini dan beberapa roti untuknya, tolonglah meskipun aku tahu ini ilegal tapi tolonglah” bibi memelas kepada petugas. saat petugas memberikannya semua pemberian bibi kepada Xavier, dia menjatuhkannya begitu saja. “ahahaha” aku tidak bisa menahan, aku ingin sekali tertawa melihatnya, semua mata tertuju padaku. “Xavier dia adalah keponakannya Bibi Monika, dan dia adalah seorang penyanyi” petugas memperkenalkan aku kepadanya. Tatapan yang dingin membuatku tak tahan ingin tertawa, tak lama kemudia dia pergi begitu saja.
“kau memang wanita aneh ! bisa-bisanya kau tertawa dalam situasi seperti itu? memang tidak berguna” Bibi memarahiku sepanjang jalan pulang “aku hanya tidak tahan melihat kelakuanmu yang bertingkah seperti ibunya, itu menurutku sangat menggelikan” aku hanya tertawa jika mengingat kejadian yang sangat aneh itu.
Two Hearts - Part 1
Namaku Audrey, aku benci dunia ini sungguh benci dan muak !, orang tuaku dan keluarga-keluargaku menganggapku seperti “sampah” ya begitulah kenyataannya. Salju turun begitu lembut menutupi sebagian jalan, lampu mobil memperlihatkan salju-salju yang turun begitu lembut yang hanya bisa dilihat oleh cahaya mobil yang aku kemudikan. Asap roko seperti debu yang memenuhi seluruh dalam mobil. Aku rebahkan tubuhku di salah satu sofa di apartemenku untuk mengumpulkan kembali energi yang sudah kugunakan.
Mataku terbuka, dan aku ingat tempat ini pernah aku kunjungi, mataku sekarang terbuka lebar, ya benar saja tempat ini penuh dengan peralatan kesehatan, rumah sakit , aku sudah sering masuk rumah sakit karena ulahku sendiri yang ingin hilang dari dunia ini dan tak ingin menjadi beban untuk orangtuaku “ibu” . Percobaan bunuh diri yang sering aku lakukan tak pernah berhasil, “apa maksud tuhan dengan semua ini? apa dia membutuhkan ku? apa tuhan ingin aku berubah? apa yang sebenarnya tuhan inginkan hingga dia tidak mengijinkanku untuk meninggalkan dunia ini?” itulah kata-kata yang sering aku keluarkan jika percobaan bunuh diriku tidak berhasil. “apa yang sebenarnya kau inginkan?” dengan wajah yang kusut ibu memarahiku “aku ingin mengakhiri hidup ini” “apa? kau ingin mati ! kau sudah gila ! benar-benar gila !” nada yang begitu kasar keluar dari mulutnya “ya , benar aku sudah gila karenamu ! ingat karenamu !!”. butiran air matapun menetes dari matanya.
Langkah kakiku pun sedikit demi sedikit mencapai ambang pintu keluar dari ruangan inap ku. Pohon-pohon yang hijau kini menjadi putih ditutupi oleh salju, jendela pun ikut terkena embun yang begitu lembut. Aku keluarkan sebatang roko yang berada disaku baju. Suasana yang hening di antara lorong rumah sakit membuatku sedikit takut, aku baru ingat mengapa diriku bisa ada di tempat menyeramkam ini, obat tidur yang sering aku minum tidak kuminum sesuai aturan hingga aku overdosis, tapi memang itu yang kuinginkan !, tetap saja tidak berhasil. Otakku mulai gila, terbesit pikiran yang sudah lama aku inginkan tetapi aku belum berani melakukannya, terjun dari lantai 15 apartemenku memang berhasil tapi nyaliku belum bisa untuk menerimanya. Asap rokok pun memenuhi hampir sebagian lorong. seorang wanita menepuk bahuku “memang wanita yang tidak berguna” seorang wanita berumur sekitar 70 tahun, bibi Monika namanya “memang aku tidak berguna” “selama satu bulan ini kau mau ikut terapi dirumah sakit bersama pamanmu atau ikut denganku?” dia menawarkan 2 pilihan yang membuatku bingung “ayo cepat, aku tidak punya waktu” sepertinya dia sedang buru-buru “em…emmmm aku ikut denganmu” dengan nada terpaksa, aku mengiyakan tawarannya.
Mataku terbuka, dan aku ingat tempat ini pernah aku kunjungi, mataku sekarang terbuka lebar, ya benar saja tempat ini penuh dengan peralatan kesehatan, rumah sakit , aku sudah sering masuk rumah sakit karena ulahku sendiri yang ingin hilang dari dunia ini dan tak ingin menjadi beban untuk orangtuaku “ibu” . Percobaan bunuh diri yang sering aku lakukan tak pernah berhasil, “apa maksud tuhan dengan semua ini? apa dia membutuhkan ku? apa tuhan ingin aku berubah? apa yang sebenarnya tuhan inginkan hingga dia tidak mengijinkanku untuk meninggalkan dunia ini?” itulah kata-kata yang sering aku keluarkan jika percobaan bunuh diriku tidak berhasil. “apa yang sebenarnya kau inginkan?” dengan wajah yang kusut ibu memarahiku “aku ingin mengakhiri hidup ini” “apa? kau ingin mati ! kau sudah gila ! benar-benar gila !” nada yang begitu kasar keluar dari mulutnya “ya , benar aku sudah gila karenamu ! ingat karenamu !!”. butiran air matapun menetes dari matanya.
Langkah kakiku pun sedikit demi sedikit mencapai ambang pintu keluar dari ruangan inap ku. Pohon-pohon yang hijau kini menjadi putih ditutupi oleh salju, jendela pun ikut terkena embun yang begitu lembut. Aku keluarkan sebatang roko yang berada disaku baju. Suasana yang hening di antara lorong rumah sakit membuatku sedikit takut, aku baru ingat mengapa diriku bisa ada di tempat menyeramkam ini, obat tidur yang sering aku minum tidak kuminum sesuai aturan hingga aku overdosis, tapi memang itu yang kuinginkan !, tetap saja tidak berhasil. Otakku mulai gila, terbesit pikiran yang sudah lama aku inginkan tetapi aku belum berani melakukannya, terjun dari lantai 15 apartemenku memang berhasil tapi nyaliku belum bisa untuk menerimanya. Asap rokok pun memenuhi hampir sebagian lorong. seorang wanita menepuk bahuku “memang wanita yang tidak berguna” seorang wanita berumur sekitar 70 tahun, bibi Monika namanya “memang aku tidak berguna” “selama satu bulan ini kau mau ikut terapi dirumah sakit bersama pamanmu atau ikut denganku?” dia menawarkan 2 pilihan yang membuatku bingung “ayo cepat, aku tidak punya waktu” sepertinya dia sedang buru-buru “em…emmmm aku ikut denganmu” dengan nada terpaksa, aku mengiyakan tawarannya.
4.23.2013
3.16.2013
Langganan:
Postingan (Atom)
