6.02.2013
Hivi! - Selalu Dihati
ku ingat saat itu saat aku dan kamu bertemu
ku yakin kaulah dewiku
dan setelah itu kusampaikan isi hatiku padamu
dan engkau pun jadi miliku
kau buat ku bahagia
hiasi hidupku dengan warna
dan kita trus bersama
selamanya...
cintamu selalu dihati
kan kujaga dan tak akan pergi
ingatlah kasih
kita kan selalu begini sampai akhir nanti....
kaulah dewiku kau pujaan hatiku
kujaga selalu (ya ku janji padamu)
tahukah kamu betapa besar cintaku
hanya padamu (hanya kepadamu)
kau buat ku bahagia
hiasi hidupku dengan warna
dan kita trus bersama
selamanya...
cintamu selalu dihati
kan kujaga dan tak akan pergi
ingatlah kasih
kita kan slalu begini sampai akhir nanti....
ku yakin kaulah dewiku
dan setelah itu kusampaikan isi hatiku padamu
dan engkau pun jadi miliku
kau buat ku bahagia
hiasi hidupku dengan warna
dan kita trus bersama
selamanya...
cintamu selalu dihati
kan kujaga dan tak akan pergi
ingatlah kasih
kita kan selalu begini sampai akhir nanti....
kaulah dewiku kau pujaan hatiku
kujaga selalu (ya ku janji padamu)
tahukah kamu betapa besar cintaku
hanya padamu (hanya kepadamu)
kau buat ku bahagia
hiasi hidupku dengan warna
dan kita trus bersama
selamanya...
cintamu selalu dihati
kan kujaga dan tak akan pergi
ingatlah kasih
kita kan slalu begini sampai akhir nanti....
5.06.2013
Two Hearts - Part 11
Aku tiba di depan rumah Xavier, tanganku dingin karena gugup untuk menceritakan semuanya pada Xavier. Aku dipersilahkan masuk oleh nenek Xavier, tapi aku tidak melihat Xavier sedikit pun. “nek? apakah Xavier ada dirumah? jika tidak aku akan pulang saja” nene pun segera menjawab pertanyaanku. “dia memang tidak ada, tapi dia akan pulang sebentar lagi, tunggulah”. Setelah beberpa menit aku menunggu akhirnya dia datang. “hai Audrey? apakah kau sudah lama menunggu? maafkan aku” dengan nada yang lelah dia mabjawab pertanyaanku. “Xavier, aku ingin mengatakan sesuatu yang pentik kepadamu” dengan nada rendah aku memulai pembicaraan. dia tidak menjawab pertanyaanku. “sebelum kau bertanya, aku memiliki sesuatu untukmu” dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. “Audrey, semenjak aku bertemu denganmu, aku merasakan hal yang sangat berbeda, aku mencintaimu Audrey, apakah kau mau menikah denganku?” aku tidak percaya Xavier melakukannya disaat yang tidak tepat, aku langsung berlari keluar rumah menuju taman yang berada di depan rumah Xavier sambil menagis, aku tidak peduli jika diluar sana hujan. Xavier mengejarku dan menarik tanganku hingga aku merasakan pelukan Xavier didalam tubuhku, hujan begitu deras baju kami basah kuyup. “mengapa kau lari? mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” Xavier memegang tangaku. Aku kembali tidak menjawab dan air mataku tidak bisa berhenti. “mengapa kau menangis? jawab aku Audrey!”. Aku memberanikan diri utuk menjawab semua pertanyaan Xavier. “maaf aku tidak bisa Xavier, tapi aku juga memiliki perasaan yang sama denganmu, tapi aku sungguh tidak bisa” aku pun terjatuh dihadapannya. “mengapa tidak bisa? apa alasannya?” dia membangunkan ku. “aku akan menikah Xavier ! menikah !, beberapa hari lagi acara pernikahan akan dimulai, maafkan aku Xavier” aku hanya bisa menangis dan memeluk Xavier dengan kuat. Xavier melepaskan pelukannya. “ternyata kau mempermainkan aku? sungguh keterlaluan Audrey !, aku tidak percaya kau seperti ini ! aku benci padamu ! dan aku mohon jangan pernah kau bertemu lagi denganku !” Xavier meninggalkan ku dis ebuah taman yang sepi dan hanya terdngar bunyi hujan yang mengisi kesepianku
Sudah hari aku tidak bertemu dengan Xavier. Besok adalah hari pernikahan yang tidak aku inginkan. Gaun putih yang begitu indah aku pakai untuk acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh ibu. Aku dan Louis menaiki mobil pengantin menuju sebuah gereja. Saat diperjalanan mobil pengantinku menabrak pembatas jalan. Aku koma dan hilang ingatan , sementara Louis hanya mengalami benturan yang sangat keras sehingga tangan Louis mengalami luka lebam.
Sudah hari aku tidak bertemu dengan Xavier. Besok adalah hari pernikahan yang tidak aku inginkan. Gaun putih yang begitu indah aku pakai untuk acara yang sudah ditunggu-tunggu oleh ibu. Aku dan Louis menaiki mobil pengantin menuju sebuah gereja. Saat diperjalanan mobil pengantinku menabrak pembatas jalan. Aku koma dan hilang ingatan , sementara Louis hanya mengalami benturan yang sangat keras sehingga tangan Louis mengalami luka lebam.
Two Hearts - Part 10
“apa yang sudah kau persiapkan untuk pernikahanmu dengan Louis?” pagi itu di apartemenku bibi menanyakan pertanyaan yang membuatku kaget. “apa maksud bibi? menikah? bi? sampai kapanpun aku tidak akan menikahi Louis ! ingat itu bi!” dengan nada yang kesal aku menentang omongan bibi. “ingat Audrey, kau telah berjanji pada ibumu waktu itu ! jangan pernah kau menjadi seseorang yang tidak bisa menepati janji” itulah kata-kata terakhir bibi sebelum meninggalkan apartemenku. Xavier adalah alasan terkuat mengapa aku tidak mau menikahi Louis. Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangannya, tapi ada satu hal yang masih mengganjal di pikiranku, “apakah dia memiliki rasa yang sama denganku? ataudia sama sekali tidak memiliki perasaan yang sama denganku?” terbesit pikiran seperti itu dalam otakku. Pikiranku penuh dengan nama Xavier, tuhan apakah memang dia lelaki yang diturunkan untukku
Ada seseorang yang mengetuk apartemenku, ternyata Ibuku dan George. unutuk apa mereka datang kemari? sungguh aneh, aku berkata dalam hati. “Audrey pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku sudah membelikanmu gaun yang sangat cantik” dengan wajah yang sangat gembira ibu mengeluarkan gaun yang begitu indah dari salah satu tas yang dibawanya. “apa kau menyukainya? ibu harap kau sangat menyukainya”. ya tuhan apa yang harus aku katakan jika aku tidak ingin menikah dengan Louis dan memakai gaun yang sudah ia berikan?, apa yang harus aku katakan?. “karena pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku harap kau jangan pernah bertemu lagi dengan laki-laki pembunuh itu”. George melarangku untuk bertemu dengan Xavier. “laki-laki pembunuh? siapa itu George?” ibu menanyakan kepada kakaku tentang sosok lelaki itu. Aku langsung menahan kaku untuk bicara “bukan siapa-siapa bu, dia hanya seorang laki-laki dari rumah tahanan, aku hanya mengenal namanya saja, aku juga tahu dia dari bibi” saat George akan melanjutkan omongannya tiba-tiba ibu mengajak George untuk meninggalkan apartemenku dan menuju rumah Louis.
Sungguh aku tidak bisa untuk memberitahu Xavier tentang kejadian yang aku alami sekarang. Aku memang adalah seorang wanita yang pembangkang saat kepergian ayah, tapi entah mengapa saat aku bertemu dengan Xavier kepribadianku berubah menjadi seorang wanita yang ramah. Aku akan pergi untuk mengunjungi rumah Xavier dan menjelaskan semua yang terjadi, dan apapun yang terjadi aku harus siap.
Ada seseorang yang mengetuk apartemenku, ternyata Ibuku dan George. unutuk apa mereka datang kemari? sungguh aneh, aku berkata dalam hati. “Audrey pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku sudah membelikanmu gaun yang sangat cantik” dengan wajah yang sangat gembira ibu mengeluarkan gaun yang begitu indah dari salah satu tas yang dibawanya. “apa kau menyukainya? ibu harap kau sangat menyukainya”. ya tuhan apa yang harus aku katakan jika aku tidak ingin menikah dengan Louis dan memakai gaun yang sudah ia berikan?, apa yang harus aku katakan?. “karena pernikahanmu tinggal beberapa hari lagi, aku harap kau jangan pernah bertemu lagi dengan laki-laki pembunuh itu”. George melarangku untuk bertemu dengan Xavier. “laki-laki pembunuh? siapa itu George?” ibu menanyakan kepada kakaku tentang sosok lelaki itu. Aku langsung menahan kaku untuk bicara “bukan siapa-siapa bu, dia hanya seorang laki-laki dari rumah tahanan, aku hanya mengenal namanya saja, aku juga tahu dia dari bibi” saat George akan melanjutkan omongannya tiba-tiba ibu mengajak George untuk meninggalkan apartemenku dan menuju rumah Louis.
Sungguh aku tidak bisa untuk memberitahu Xavier tentang kejadian yang aku alami sekarang. Aku memang adalah seorang wanita yang pembangkang saat kepergian ayah, tapi entah mengapa saat aku bertemu dengan Xavier kepribadianku berubah menjadi seorang wanita yang ramah. Aku akan pergi untuk mengunjungi rumah Xavier dan menjelaskan semua yang terjadi, dan apapun yang terjadi aku harus siap.
Two Hearts - Part 9
Hujanpun turun di apartemenku, aku urungkan niatku untuk pergi ke rumah bibi. Aku tahu mengapa kemarin George ada di rumah bibi, dia mengantarkan tas bibi karena kemarin dia tinggalkan dikursi saat menjenguk ibu. Lamunanku makin jauh tentang Xavier, aku tidak mengerti mengapa aku selalu memikirkannya, apa yang merasuki diriku ini? sungguh tidak mengerti, telfonku berbunyi nomornya tidak aku kenal “apakah ini Audrey?” seorang laki-laki berbicara di telfon. “iya ini aku Audrey, kau siapa?” kecurigaanku muncul. “syukurlah…, aku Xavier, kenapa kau tidak pergi ke rumah bibi? bukannya kau akan kesini?” dia menanyakan kepadaku “oh ternyata kau, aku pikir kau Louis, hampir saja…, aku tidak pergi karena di daerahku hujan, maaf aku tidak bisa pergi” kecurigaanku berbubah menjadi kebahagiaan. “Louis? siapa dia? oh tunanganmu itu?” nada bicaranya berubah menjadi angkuh. Aku tidak bisa berkata apa-apa mengapa aku sebut nama itu, sungguh kesalahan yang fatal. “ee….emm..bu..bukan, dia hanya temanku” aku mendadak gagap. “jika tunanganmu juga tidak apa-apa, apa kau nanti malam ada acara? aku ingin mengajakmu pergi kesuatu tempat” dia menawariku tawaran yang selama ini aku tunggu, berjalan bersamanya. “aku mau!!!” aku begitu bersemangat. “baiklah, berikan alamat apartemenmu kepadaku”. Aku memberikan alamat apartemenku kepadanya.
Harapanku yang selama ini aku tunggu pun akhirnya bisa terwujud, sebelum pernikahan itu dimulai aku ingin melewati hidupku dan hari-hariku bersamanya. Xavier pun telah menunggu di depan pintu apartemenku. Didalam perjalanan aku melihat wajah Xavier begitu bahagia, terlihat dari senyumannya. Didalam mobil aku bertanya sesuatu kepadanya. “darimana kau dapat mobil mewah ini? dan telfon, iya telfon, mengapa kau bisa manelfonku, padahal kau tidak punya telfon?” aku menanyakan hal memang begitu aneh kepadanya. “dulu aku mempunyai seorang ibu tiri dialah yang merawatku dan adikku, ketika aku ada di panti asuhan diamengadopsi aku dan adikku. dan dialah yang memberikan ini kepadaku” dia menceritakan semuanya “lalu? mengapa kau jadi pembunuh? kau sudah memiliki kebahagiaan bersamanya kan? kenapa kau menghancurkan semuanya?” aku bertanya penasaran. “dia adalah serorang janda, suaminya meninggal terkena kanker hati, dia tidak memiliki anak, karena dia sangat kesepian dia mengadopsi kami berdua, tetapi saat adikku dan aku merasakan hangatnya seorang dekapan ibu, seorang penjahat pada malam itu membunuh ibu tiriku, belum sempat pembunuh itu mengambil barang-barang yang ada di rumahku polisi datang. dan aku berfikir, mengapa setiap aku mendapat kebahagiaan selalu tidak pernah ada yang abadi,jadi aku berfikir untuk jadi pembunuh, ya jadi pembunuh untuk membunuh orang yang telah merenggut nyawa ibuku.” dia mengeluarkan air mata saat sedang menceritakan semuanya. “jadi ini adalah sebuah warisan?” aku menanyakannya sekali lagi. “iya memang benar ini semua warisan dari ibuku”.
Akhirnya kita sampai di sebuah rumah yang begitu mewah dan begitu indah sekali. aku duduk diruang tamu dan seorang nenek-nenek datang menghampiriku. “kau pasti Audrey” nenek itu menanyakan hal yang aneh. “iya aku Audrey, kau siapa?” “aku Jane, aku adalah nenek Xavier” dia mejabat tanganku untuk berkenalan. Xavier mengajakku kesebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya, ini terlihat seperti pemakaman, ya benar pemkaman, untuk apa dia membawaku kemari. Di sebuah batu nisan itu tertulis nama seseorang bernama Darwin. ternayata dia membawaku ketempat peristirahatan adiknya. “ini pasti adikmu” Xavier terkejut mendengar aku mengatakan hal itu ” iya benar, darima kau tahu?” Xavier menanyakan hal itu “aku membaca artikel tentangmu di sebuah internet” “oh begitu, adikku sangat senang sekali dengan lagumu pada saat dia masih kecil, makannya aku membawamu kemari” pandangan penuh harap Xavier terlihat dari wajahnya, yang menginginkan adiknya hidup kembali.
Aku menanyakan hal yang memang harus aku ketahui “Xavier, mengapa saat kau dipenjara, dan dihukum mati, kenapa bisa kau bebas begitu saja? dan mengapa saat kau dipenjara tidak ada satu orang pun yang menjengukmu? kau bilang kau tidak punya keluarga? padahal kau punya kan?, kenapa Xavier? ” aku sangat ingin tahu lebih jauh kehidupannya. “kau sudah bertemu nenekku? lebih tepatnya nenek tiriku? dia yang membebaskanku meskipun aku tidak ingin dibebaskan, dia meminta pihak kepolisian karena tidak ingin melihat cucu palsunya dihukum mati, tanpa sepengtahuanku dia membayar polisi untuk membebaskanku, aku tidak ingin memberitahu keluargaku karena aku tidak ingin ada orang jahat yang akan merenggut nyawa keluargaku satu-satunya yaitu nenekku, aku bersikap dingin karena aku tidak ingin melihat orang-orang bisa mempermainkanku seenaknya. nah, kau sudah tahu kan?” dia mengusap kepalaku seperti anak kecil kemudian tersenyum.
Harapanku yang selama ini aku tunggu pun akhirnya bisa terwujud, sebelum pernikahan itu dimulai aku ingin melewati hidupku dan hari-hariku bersamanya. Xavier pun telah menunggu di depan pintu apartemenku. Didalam perjalanan aku melihat wajah Xavier begitu bahagia, terlihat dari senyumannya. Didalam mobil aku bertanya sesuatu kepadanya. “darimana kau dapat mobil mewah ini? dan telfon, iya telfon, mengapa kau bisa manelfonku, padahal kau tidak punya telfon?” aku menanyakan hal memang begitu aneh kepadanya. “dulu aku mempunyai seorang ibu tiri dialah yang merawatku dan adikku, ketika aku ada di panti asuhan diamengadopsi aku dan adikku. dan dialah yang memberikan ini kepadaku” dia menceritakan semuanya “lalu? mengapa kau jadi pembunuh? kau sudah memiliki kebahagiaan bersamanya kan? kenapa kau menghancurkan semuanya?” aku bertanya penasaran. “dia adalah serorang janda, suaminya meninggal terkena kanker hati, dia tidak memiliki anak, karena dia sangat kesepian dia mengadopsi kami berdua, tetapi saat adikku dan aku merasakan hangatnya seorang dekapan ibu, seorang penjahat pada malam itu membunuh ibu tiriku, belum sempat pembunuh itu mengambil barang-barang yang ada di rumahku polisi datang. dan aku berfikir, mengapa setiap aku mendapat kebahagiaan selalu tidak pernah ada yang abadi,jadi aku berfikir untuk jadi pembunuh, ya jadi pembunuh untuk membunuh orang yang telah merenggut nyawa ibuku.” dia mengeluarkan air mata saat sedang menceritakan semuanya. “jadi ini adalah sebuah warisan?” aku menanyakannya sekali lagi. “iya memang benar ini semua warisan dari ibuku”.
Akhirnya kita sampai di sebuah rumah yang begitu mewah dan begitu indah sekali. aku duduk diruang tamu dan seorang nenek-nenek datang menghampiriku. “kau pasti Audrey” nenek itu menanyakan hal yang aneh. “iya aku Audrey, kau siapa?” “aku Jane, aku adalah nenek Xavier” dia mejabat tanganku untuk berkenalan. Xavier mengajakku kesebuah tempat yang tidak jauh dari rumahnya, ini terlihat seperti pemakaman, ya benar pemkaman, untuk apa dia membawaku kemari. Di sebuah batu nisan itu tertulis nama seseorang bernama Darwin. ternayata dia membawaku ketempat peristirahatan adiknya. “ini pasti adikmu” Xavier terkejut mendengar aku mengatakan hal itu ” iya benar, darima kau tahu?” Xavier menanyakan hal itu “aku membaca artikel tentangmu di sebuah internet” “oh begitu, adikku sangat senang sekali dengan lagumu pada saat dia masih kecil, makannya aku membawamu kemari” pandangan penuh harap Xavier terlihat dari wajahnya, yang menginginkan adiknya hidup kembali.
Aku menanyakan hal yang memang harus aku ketahui “Xavier, mengapa saat kau dipenjara, dan dihukum mati, kenapa bisa kau bebas begitu saja? dan mengapa saat kau dipenjara tidak ada satu orang pun yang menjengukmu? kau bilang kau tidak punya keluarga? padahal kau punya kan?, kenapa Xavier? ” aku sangat ingin tahu lebih jauh kehidupannya. “kau sudah bertemu nenekku? lebih tepatnya nenek tiriku? dia yang membebaskanku meskipun aku tidak ingin dibebaskan, dia meminta pihak kepolisian karena tidak ingin melihat cucu palsunya dihukum mati, tanpa sepengtahuanku dia membayar polisi untuk membebaskanku, aku tidak ingin memberitahu keluargaku karena aku tidak ingin ada orang jahat yang akan merenggut nyawa keluargaku satu-satunya yaitu nenekku, aku bersikap dingin karena aku tidak ingin melihat orang-orang bisa mempermainkanku seenaknya. nah, kau sudah tahu kan?” dia mengusap kepalaku seperti anak kecil kemudian tersenyum.
Two Hearts - Part 8
Aku tidak tahu apa yang membuat aku ingin kembali ke rumah tahanan tersebut padahal aku sama sekali tidak ada pekerjaan lagi bersama bibi. Aku meminta kepada petugas untuk mempertemukan aku dengan Xavier, petugas pun membawaku ke ruangan suci. “ada apa kau menjengukku?” Xavier memulai percakapan. Aku menundukan kepalaku mengarah ke lantai ruangan tersebut sambil mataku berkaca-kaca akan menangis dan tidak menjawab pertanyaannya. “hey aku bertanya padamu, jika tidak menjawab, aku akan kembali ke dalam sel” dia menanyakan kembali dengan muka yang kesal. Karena kesal mengunggu jawabanku akhirnya dia beranjak dari kursi dan kembali ke petugas, tetapi Aku mengadahkan kepalaku sambil mengusap air mata yang menetes di pipiku dan berteriak kepadanya “tunggu, aku hanya ingin mengetahui bagaima kabarmu”. Xavier kembali duduk saat aku menjawab pertanyaannya. “aku baik-baik saja, bagaimana denganmu? sepertinya kau sedang tidak baik, apakah percobaan bunuh diri yang kau lakukan gagal lagi?” dia mencondongkan wajahnya hingga tepat berada di depan wajahku yang sembab karena habis menangis. pertanyaan itu membuat aku tertawa “haha, bisa saja kau ini, bagaima kau tahu jika aku selalu bunuh diri dan gagal” “Bibimu selalu menceritakanmu kepadaku tentang keponakannya yang bodoh” wajah yang begitu bahagia terpancar darinya “haha Bibi memang memalukan saja, Xavier apakah kau mau menjadi temanku?” aku sangat tidak mengerti mengapa kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Xavier pun sangat bingung untuk menjawab pertanyaanku “apa? teman? selama ini aku tidak punya teman, jika kau mau berteman denganku, baiklah”. Aku sangat senang dengan jawaban Xavier. Kami mengobrol sampai tidak mengenal waktu, jika waktu besukku telah habis. Aku kembali ke apartemenku di daerah Norwich dan dia kembali ke sel tahanannya.
Selama beberapa hari ini aku dan Xavier menghabiskan waktu bersama di ruangan suci tempat kami bercanda dan bercakap-cakap. Dengan kejadian itulah aku merasakan ini yang dinamakan cinta. Xavier akan bebas besok hari, karena Xavier berkelakuan baik selama beberapa bulan ini. Aku berkata pada Bibi Monika tentang bebasnya Xavier, Bibi sangat senang mendengar berita itu.
Pagi ini aku menjemput Xavier dan membawanya ke rumah bibi. Tidak kusangka ternyata dirumah bibi ada George, aku lemas seketika “siapa laki-laki ini? jawab aku Audrey !, kau bersama seorang pembunuh bajingan ini? pantas saja aku curiga dan khawatir tentangmu, dan benar saja selama ini kau bermain dengan orang tidak sebanding denganmu !” kakaku menamparku dengan keras, tiba tiba Xavier yang melihat aku diperlakukan seenaknya oleh kakaku akan menonjok kakaku tetapi itu tidak berhasil karena bibi melerai mereka. George pergi begitu saja. Bibi membangunkan aku yang jatuh dihalaman rumahnya karena kaget melihat perlakuan kakaku, bibi mengobati pipiku dengan es. “apa kau baik-baik saja?” Xavier memegang tanganku dan mengusap air mataku “aku baik-baik saja Xavier” aku sangat sedih untuk menjawab kata-kata itu. Setelah mengantarkan Xavier dan memastikan keadaanku baik, aku kembali ke apartemenku untuk beristirahat.
Selama beberapa hari ini aku dan Xavier menghabiskan waktu bersama di ruangan suci tempat kami bercanda dan bercakap-cakap. Dengan kejadian itulah aku merasakan ini yang dinamakan cinta. Xavier akan bebas besok hari, karena Xavier berkelakuan baik selama beberapa bulan ini. Aku berkata pada Bibi Monika tentang bebasnya Xavier, Bibi sangat senang mendengar berita itu.
Pagi ini aku menjemput Xavier dan membawanya ke rumah bibi. Tidak kusangka ternyata dirumah bibi ada George, aku lemas seketika “siapa laki-laki ini? jawab aku Audrey !, kau bersama seorang pembunuh bajingan ini? pantas saja aku curiga dan khawatir tentangmu, dan benar saja selama ini kau bermain dengan orang tidak sebanding denganmu !” kakaku menamparku dengan keras, tiba tiba Xavier yang melihat aku diperlakukan seenaknya oleh kakaku akan menonjok kakaku tetapi itu tidak berhasil karena bibi melerai mereka. George pergi begitu saja. Bibi membangunkan aku yang jatuh dihalaman rumahnya karena kaget melihat perlakuan kakaku, bibi mengobati pipiku dengan es. “apa kau baik-baik saja?” Xavier memegang tanganku dan mengusap air mataku “aku baik-baik saja Xavier” aku sangat sedih untuk menjawab kata-kata itu. Setelah mengantarkan Xavier dan memastikan keadaanku baik, aku kembali ke apartemenku untuk beristirahat.
Two Hearts - Part 7
Satu bulan begitu berlalu dengan cepat, pelajaran yang berharga aku dapatkan selama satu bulan ini, tetapi ini hari terakhir aku bertemu dengan Xavier karena tugas yang bibi berikan kepadaku telah selesai, aku mendadak mengeluarkan air mata dihadapannya “kau tidak apa-apa?” “iya Audrey, apa kau baik-baik saja?” Bibi Monika dan Xavier memberikan pertanyaan yang sangat sulit untuk aku jawab. “tidak,apa-apa, sungguh aku baik-baik saja, hanya mataku perih sedikit karena kurang tidur semalam” itu adalah sebuah kebohongan yang sangat menyakitkan yang pernah aku ucapkan seumur hidupku.
Dalam perjalanan pulang aku tidak bisa berhenti memikirkannya, sampai bibi menepuk bahuku, hingga aku tersadar dari lamunanku , “jangan mengagetkanku seperti itu lagi !” aku kesal atas perlakuan bibi yang menyebalkan itu. “jangan kau menyetir dalam keadaan melamun !” bibi memutar balikan omelanku yang tadi. “kau menyukai Xavier? akhirnya selama bertahun-tahun kau tidak pernah mencintai seseorang, hatimu luluh juga terhadap terpidana mati itu” Bibi tertawa begitu hebatnya karena dia mengetahui perasaanku terhadapnya. Aku sangat malu untuk menjawabnya, aku urungkan untuk menjawab pertanyaan dari bibi.
“kau sedang dimana? cepatlah ke rumah sakit, penyakit ibu kambuh” George begitu cemas saat menelfonku. Tujuanku saat itu akan mengantar Bibi pulang tapi saat mendengar kejadian seperti itu aku langsung mengarahkan mobilku ke rumah sakit didaerah Greenwich. saat aku masuk ke ruangan rawat inap ibu, ternayata di dalam ada Louis, aku tidak menghiraukannya. Ibu yang terbujur kaku diatas tempat tidur membuat aku bersedih sambil memeluk kakaku. Bibi duduk di kursi yang tepatnya bersebelahan dengan kasur ibu. setelah beberapa jam ibu tidak sadarkan diri, tapi akhirnya ibu bisa membuka matanya dan menggerakan tangannya, aku langsung memegang tangannya “waktu ibu tidak lama lagi Audrey, ibu ingin melihat kau dan Louis menikah sebelum ibu pergi meninggalkan dunia ini,aku ingin kalian menikah 2 minggu lagi, aku mohon Audrey laksanakan permintaan ibu ini” ibu meneteskan air matanya sehingga aku tidak bisa untuk membangkang omongan ibu. Aku melihat Bibi Monika keluar dari ruangan rawat inap. “ta….pppii.. bu” aku ingin sekali menolak permintaan ibu ini, tapi mulutku tidak bisa berkata “tidak” karena melihat kondisi ibu saat ini. Louis memegang bahuku. “baiklah ibu, aku akan menikah dengannya” air mataku tidak bisa tertahan lagi, George memasang muka yang sangat menyesal telah mengenalkan temannya itu ibuku untuk menjadi calon suami adiknya. Aku langsung keluar dari ruangan rawat inap Ibu, dan menuju taman yang berada di belakang rumah sakit. ya tuhan aku tidak kuat untuk menanggung beban yang sangat berat ini, aku mohon cabut nyawaku sekarang juga ya tuhan, tolonglah…. aku tidak mencintainya tuhan. Bibi menawarkanku tisu untuk mengelap air mataku “aku tahu ini sangat berat untukmu, Miranda memang keterlaluan, sangat tidak punya perasaan, sabarlah Audrey” bibi berkata demikian sambil memelukku.
Dalam perjalanan pulang aku tidak bisa berhenti memikirkannya, sampai bibi menepuk bahuku, hingga aku tersadar dari lamunanku , “jangan mengagetkanku seperti itu lagi !” aku kesal atas perlakuan bibi yang menyebalkan itu. “jangan kau menyetir dalam keadaan melamun !” bibi memutar balikan omelanku yang tadi. “kau menyukai Xavier? akhirnya selama bertahun-tahun kau tidak pernah mencintai seseorang, hatimu luluh juga terhadap terpidana mati itu” Bibi tertawa begitu hebatnya karena dia mengetahui perasaanku terhadapnya. Aku sangat malu untuk menjawabnya, aku urungkan untuk menjawab pertanyaan dari bibi.
“kau sedang dimana? cepatlah ke rumah sakit, penyakit ibu kambuh” George begitu cemas saat menelfonku. Tujuanku saat itu akan mengantar Bibi pulang tapi saat mendengar kejadian seperti itu aku langsung mengarahkan mobilku ke rumah sakit didaerah Greenwich. saat aku masuk ke ruangan rawat inap ibu, ternayata di dalam ada Louis, aku tidak menghiraukannya. Ibu yang terbujur kaku diatas tempat tidur membuat aku bersedih sambil memeluk kakaku. Bibi duduk di kursi yang tepatnya bersebelahan dengan kasur ibu. setelah beberapa jam ibu tidak sadarkan diri, tapi akhirnya ibu bisa membuka matanya dan menggerakan tangannya, aku langsung memegang tangannya “waktu ibu tidak lama lagi Audrey, ibu ingin melihat kau dan Louis menikah sebelum ibu pergi meninggalkan dunia ini,aku ingin kalian menikah 2 minggu lagi, aku mohon Audrey laksanakan permintaan ibu ini” ibu meneteskan air matanya sehingga aku tidak bisa untuk membangkang omongan ibu. Aku melihat Bibi Monika keluar dari ruangan rawat inap. “ta….pppii.. bu” aku ingin sekali menolak permintaan ibu ini, tapi mulutku tidak bisa berkata “tidak” karena melihat kondisi ibu saat ini. Louis memegang bahuku. “baiklah ibu, aku akan menikah dengannya” air mataku tidak bisa tertahan lagi, George memasang muka yang sangat menyesal telah mengenalkan temannya itu ibuku untuk menjadi calon suami adiknya. Aku langsung keluar dari ruangan rawat inap Ibu, dan menuju taman yang berada di belakang rumah sakit. ya tuhan aku tidak kuat untuk menanggung beban yang sangat berat ini, aku mohon cabut nyawaku sekarang juga ya tuhan, tolonglah…. aku tidak mencintainya tuhan. Bibi menawarkanku tisu untuk mengelap air mataku “aku tahu ini sangat berat untukmu, Miranda memang keterlaluan, sangat tidak punya perasaan, sabarlah Audrey” bibi berkata demikian sambil memelukku.
Langganan:
Postingan (Atom)